BNP2TKI Minta 2 WNI yang Divonis Mati di Malaysia Dibebaskan

- detikNews
Kamis, 25 Okt 2012 03:51 WIB
ilustrasi
Jakarta - Dua WNI kakak beradik dari Kalimantan Barat Frans Hiu dan Dharry Frully Hiu divonis mati oleh pengadilan tinggi Malaysia. Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI),Jumhur Hidayat menilai 2 WNI ini tidak bersalah dan harus dibebaskan.

“Mereka tidak melakukan kejahatan dan harus dibebaskan. Karena, terutama Frans hanya menangkap seorang pencuri warga Malaysia, Kharti Raja, sewaktu beraksi di mes perusahaan tempat keduanya menetap pada 3 Desember 2010, yang beralamat di Jalan 4 Nomor 34, Taman Sri Sungai Pelek, Sepang, Selangor, Malaysia. Frans yang membekuk langsung pencuri itu sempat membawa ke lantai bawah, namun tiba-tiba si pencuri mengalami pingsan serta meninggal di lokasi tersebut,” ujar Jumhur dalam siaran persnya, Rabu (24/10/2012).
 
Menurut Jumhur, tak lama setelah meninggal, aparat kepolian Malaysia tiba dan mendapatkan jenis narkoba dari saku celana pencuri. Polisi selanjutnya melakukan visum atas kematiannya dengan menyimpulkan Kharti Raja meninggal akibat ’over dosis’.

Jumhur menjelaskan, saat peristiwa masuknya pencuri itu, di tempat kejadian sebenarnya terdapat satu pegawai lain berkewargaan Malaysia. Hanya saja, dia dan Dharry menjadi panik melihat sosok Kharti yang bertubuh besar.

"Sehingga spontan melarikan diri ke luar. Sebaliknya, Frans berupaya sendirian menangkap sang pencuri," terang Jumhur.

Pengadilan Majelis Rendah Selangor menyidangkan Frans, Dharry, serta seorang temannya berwarga Malaysia sekitar bulan Juni-Juli tahun 2012. Ketiganya pun dinyatakan bebas alias tidak bersalah oleh keputusan hakim Majelis Rendah Selangor.

Melalui putusan itu, keluarga pihak Kharti mengajukan banding ke Mahkamah Tinggi. Tetapi anehnya, hanya Frans dan Dharry yang dijadikan perkara tuntutan dalam pengadilan banding itu, sementara kawannya dari Malaysia tak diikutkan dalam proses banding.

”Putusan banding yang menghukum Frans maupun Dharry dengan vonis mati oleh hakim tunggal Nur Cahaya Rashad sungguh aneh, mengingat keduanya memang tidak bersalah dan telah dinyatakan oleh putusan sidang sebelumnya,” jelas Jumhur.

Kasus Frans dan Dharry kini dalam penanganan KBRI Kuala Lumpur untuk melanjutkan ke tingkat Mahkamah Rayuan. ”Persidangannya masih menunggu waktu dan akan diupayakan baik Frans maupun Dharry mendapatkan kebebasan dari hukuman apa pun,” ungkap Jumhur.



(fjp/rvk)