Bos Perusahaan Investasi Diduga Larikan Dana Nasabah Rp 67 M

- detikNews
Rabu, 09 Mei 2012 10:42 WIB
Palembang - Sebuah perusahaan investasi memakan korban di Palembang. Sang pemilik yang bernama Satria melarikan diri dan diduga membawa kabur puluhan miliar dana milik nasabahnya.

PT Satria Investment Global (SIG), demikian nama perusahaan itu. Nasabah melaporkan kasus tersebut ke Polda Sumsel, Selasa (8/5/2012).

"Uang yang saya investasikan ke PT SIG itu terkumpul selama kurang lebih satu tahun. Saya merasa cemas begitu mendengar Satria melarikan diri dan membawa kabur uang seluruh nasabahnya," ujar Yusleni, salah satu nasabah PT SIG yang melaporkan Satria.

"Kami sudah menerima laporan ini. Selain mengumpulkan saksi-saksi, kami juga akan berusaha mengumpulkan bukti-bukti terkait peristiwa ini. Keberadaan Satria yang dikabarkan melarikan diri juga akan kami cari," ujar Kepala SPK, AKP Suhartono, kepada wartawan.

Sebelumnya, Senin (7/5/2012), puluhan nasabah atau investor PT SIG mendatangi kantor perusahaan tersebut di Jalan Sumpah Pemuda, Kampus, Palembang. Mereka marah lantaran bos PT Satria Investment Global (SIG) Satria diduga kabur membawa uang Rp 67 miliar milik 800 investor.

Persoalan muncul sebab sejak Desember 2011 lalu, pembagian keuntungan sebesar 10 persen per bulan dari total investasi yang ditanamkan tidak pernah dibayarkan. Begitu diminta dan ditanyakan, PT SIG selalu menunda dan mengulur-ulur waktu.

Sebagai informasi, nilai investasi yang ditanamkan para investor dari berbagai kalangan, seperti pegawai negeri, wartawan, dan pengusaha, ini berkisar antara Rp 100 juta hingga ratusan juta rupiah. Meski demikian, sebagian nasabah memang sudah pernah menikmati bagi hasil dari PT SIG.

Kurnati Abdullah, mantan Ketua PWI Sumsel yang juga nasabah perusahaan itu, mengaku menginvestasikan uangnya Rp 100 juta dan sudah pernah mencicipi uang bagi hasil. Begitu juga dengan Hani (35), yang menanamkan uangnya Rp 200 juta dengan bagi hasil Rp 20 juta per bulan. Hani mengaku, ia sudah empat kali menerima uang bagi hasil, yakni total Rp 80 juta. Namun begitu masuk 14 Desember 2011, bagi hasil tidak pernah diberikan
lagi.


(tw/try)