DetikNews
Jumat 10 Agustus 2007, 08:10 WIB

Mengapa Gempa Indramayu Justru Membuat Kerusakan di Sukabumi?

- detikNews
Mengapa Gempa Indramayu Justru Membuat Kerusakan di Sukabumi?
Jakarta - Tanggal 9 Agustus 2007 dini hari, beberapa tempat di Pulau Jawa seperti di Bandung, DKI Jakarta, Semarang, dan Yogyakarta dikagetkan dengan guncangan gempa yang cukup keras. Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) mencatat gempa berpusat di arah barat laut Indramayu dengan kekuatan 7 SR.Tidak ada kerusakan di daerah sekitar Indramayu. Bahkan banyak warga yang tidak tahu bahwa daerahnya dekat dengan pusat gempa. Laporan kerusakan justru datang dari Sukabumi yang jaraknya lebih jauh dari pusat gempa. Dinding rumah banyak yang retak, bahkan ada 2 ruang kelas di sekolah dasar yang ambruk. Lho kok bisa?Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di Nagoya, Jepang, mencoba untuk menjawab pertanyaan ini. Pakar gempa dari ITB yang sedang kuliah di sana, Irwan Meilano, diajak berdiskusi untuk mendapat penjelasan yang ilmiah dan komprehensif.Hasil diskusi yang diterima detikcom<\/b>, Jumat (10\/8\/2007), menyebutkan alasan gempa 7 SR di Indramayu justru menimbulkan kerusakan di Sukabumi adalah gempa tersebut tergolong gempa dalam.Hal ini disebabkan karena lokasi gempa yaitu lebih dalam dari 70 km (gempa terjadi pada kedalaman 289 km). Ciri lain dari gempa dalam (deep earthquake<\/i>) yaitu gempa ini sangat efektif menghasilkan gelombang badan (body wave<\/i>) daripada gelombang permukaan (surface wave<\/I>).Pada gempa dalam, gelombang gempa lebih efektif merambat sepanjang kerak samudera yang menghujam di bawah Pulau Jawa, dan bukan tegak lurus ke atas. Sehingga efek gempa terbesar bukan pada jarak yang dekat dengan episenter tetapi yang dekat dengan kerak samudra, yaitu di sekitar zona pertemuan lempeng atau di pantai selatan, dan bukan di pantai utara Jawa. Hal ini menjawab mengapa kerusakan justru terjadi di Sukabumi.Proses terjadinya gempa dalam sangat berbeda dengan pada gempa dangkal. Pada gempa dangkal, sebagai contoh gempa Pangandaran tahun lalu, energi yang terkumpul akibat tumbukan lempeng selama ratusan tahun, dilepaskan secara tiba-tiba dalam waktu beberapa detik sebagai gempa bumi. Tetapi pada gempa dalam, kondisinya berbeda. Pada kedalaman lebih 250 km, maka besarnya tekanan dapat mencapai lebih dari 10 GPa dengan suhu lebih 1.000 derajat. Sehingga teori akumasi dan pelepasan energi secara tiba-tiba, seperti pada gempa Pangandaran dan gempa Yogyakarta sudah tidak berlaku lagi. Mekanisme gempa dalam masih menjadi misteri. Salah satu teori yang menjelaskan terjadinya gempa dalam yaitu terjadinya perubahan sifat kimiawi batuan pada suhu dan tekanan tertentu, misalnya teori berubahnya serpentine<\/i> menjadi olivine<\/i> yg diikuti dengan pelepasan air sehingga lebih rigid dan memungkinkan terjadinya gempa.


(gah/nrl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed