Setahun Kasus Gaby yang Tewas Tenggelam Mangkrak, Ibu Minta Kasus Disidang

Setahun Kasus Gaby yang Tewas Tenggelam Mangkrak, Ibu Minta Kasus Disidang

Bartanius Dony A - detikNews
Selasa, 08 Nov 2016 12:13 WIB
Foto: Kasus Gaby yang Tewas Tenggelam Mangkrak (Bartanius Dony/detikcom)
Foto: Kasus Gaby yang Tewas Tenggelam Mangkrak (Bartanius Dony/detikcom)
Jakarta - Ibunda Gabriella Sheryl Howard atau Gaby (8), Verayanti, meminta kasus anaknya yang tewas akibat tenggelam di kolam renang, segera disidangkan. Kasus tersebut sudah setahun mangkrak.

"Saya mohon kasus Gaby segera disidangkan dengan jujur dan adil. Tuhanlah yang berkuasa untuk mengungkap kasus ini, tolong hati nuraninya dibuka. Apalagi para ibu yang melahirkan anak," ujar ibunda Gaby, Verayanti (38) dalam jumpa pers di Komnas PA, Jl TB Simatupang, Jakarta Selatan, Selasa (8/11/2016).

Verayanti dan suaminya Asip (45) meminta pendampingan Perlindungan Anak (Komnas PA) agar kasus anaknya segera ditindak oleh kejaksaan. Untuk menyampaikan kepada publik pendampingan kejelasan hukum.

Menurut Verayanti, kasus tenggelamnya Gaby sudah berlangsung selama lebih dari setahun. Gaby tewas di kolam renang sekolah pada Kamis (17/9/2015) lalu.

"Sudah lebih dari satu tahun, namun belum naik ke pengadilan. Makam anak kami sudah dibongkar, sudah di autopsi. Padahal kami kan tidak mau, diautopsi kan kepalanya digergaji, kami nggak mau sebenarnya," kata Verayanti.

Verayanti menyayangkan guru olahraga Gaby yang hingga kini bebas berkeliaran meski sudah menjadi tersangka. Bahkan guru olahraganya membuka usaha kafe. Berkas kasus tewasnya Gaby hingga kini juga masih belum jelas.

"Menurut kepolisian kasus ini bisa masuk sidang. Tapi berkas dikembalikan ke polisi dari jaksa. Di bolak-balik terus," ucap dia.

Asip membantah Gaby epilepsi. Anaknya sehat saat berangkat sekolah. Dia hingga kini menyayangkan sikap sekolah yang tidak meminta maaf padanya.

"Sampai saat ini guru olahraganya tidak pernah minta maaf ke saya. Kami kecewa sekali, guru olahraga nggak pernah datang, pemilik sekolahnya pun nggak pernah datang. Direktur sekolahnya hanya mengatakan ini musibah. Apakah moralitas sekolah seperti ini?" kata Asip.

Asip menyayangkan saat berenang di sekolah, 15 murid hanya dijaga satu guru. Guru dinilainya tidak maksimal menjaga anak-anak.

"Kasus anak saya akan saya perjuangkan. Supaya orang yang punya duit jangan main-main buat sekolah. Jangan sembarangan menjaga anak," ucap dia.

Ketua Komnas PA Arist Merdeka Sirait menyatakan, hasil autopsi sudah menyatakan Gaby meninggal karena tenggelam. Bahkan ada surat dari Dinas Pendidikan setempat jika kolam renang di sekolah Gaby tidak untuk anak umur 8 tahun yakni dengan ketinggian 160 sentimeter.

"Guru yang ditetapkan tersangka itu bahwa ketika ada pemberitahuan Gaby tenggelam, tidak dilakukan langkah cepat. Komnas anak melihat ini suatu kelalaian," kata Arits.

Arits menambahkan, 17 saksi sudah diperiksa, termasuk tersangka. Dia menilai kasus tersebut sudah cukup bukti dari saksi-saksi.

"Komnas PA akan ke jaksa penuntut umum apa sebenarnya yang salah. Kasus anak tidak boleh satu tahun, harus 14 hari. Sudah cukup bukti itu untuk P21," ucap dia.

Arits akan segera menyurati jaksa penuntut umum dan Polres Jakbar. Hal ini agar kasus tersebut terang-benderang.

Gaby tewas tenggelam di sekolahnya, Global Sevilla School pada Kamis (17/9/2015) lalu. Dia tenggelam saat mengikuti tes berenang yang merupakan pelajaran wajib.

Baca juga: Siswa Global Sevilla School Tewas Tenggelam, Orang Tua Masih Berduka



(nwy/asp)