DetikNews
Senin 05 September 2016, 14:35 WIB

KPK akan Periksa Ayah Bupati Banyuasin Yan Anton Terkait Kasus Suap

Dhani Irawan - detikNews
KPK akan Periksa Ayah Bupati Banyuasin Yan Anton Terkait Kasus Suap Pimpinan KPK jumpa pers soal penangkapak Bupati Banyuasin/Foto: Dhani/detikcom
Jakarta -

Yan Anton Ferdian resmi menyandang status tersangka penerimaan suap terkait proyek ijon di Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Yan merupakan Bupati Banyuasin periode 2013-2018.

Wilayah Banyuasin merupakan pemekaran dari Kabupaten Musi Banyuasin pada tahun 2002 ketika Megawati Soekarnoputri menjabat sebagai Presiden Indonesia. Saat itu, Amiruddin Inoed ditunjuk sebagai pelaksana tugas bupati dan berlanjut sebagai Bupati Banyuasin definitif sejak 2003 hingga 2013.

Lepas masa jabatannya selama 2 periode, tongkat kepemimpinan Banyuasin beralih ke putra sulung Amiruddin yaitu Yan Anton Ferdian yang menjadi Bupati Banyuasin periode 2013-2018. Melihat kecenderungan dinasti politik tersebut, KPK pun tidak segan-segan memanggil Amiruddin apabila memiliki keterkaitan dengan kasus suap yang menjerat anaknya saat ini.

"Kemungkinan (ada aliran uang dari Yan ke ayahnya) itu pasti. Kemungkinan pasti berhubungan dengan bupati atau semua berhubungan kasus ini pasti akan diperiksa siapapun orangnya," kata Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan di kantornya, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Senin (5/9/2016).

Amiruddin sendiri sebenarnya pernah berurusan dengan aparat penegak hukum, khususnya Bareskrim Polri. Dia pernah diperiksa sebagai saksi berkaitan dengan kasus dugaan korupsi proyek cetak sawah.

Kini, anak Amiruddin, Yan yang harus berurusan dengan aparat penegak hukum lainnya yaitu KPK. Yan pun telah resmi ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK.

Yan ditangkap KPK pada Minggu kemarin sesaat setelah mengadakan kegiatan pengajian dalam rangka dirinya dan istrinya untuk berangkat haji. Selain itu, KPK juga menangkap Rustami selaku Kasubag Rumah Tangga Bagian Umum Sekretariat Daerah Kabupaten Banyuasin dan Umar Usman selaku Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuasin di rumah dinas Bupati Banyuasin.

Kemudian KPK juga menangkap Sutaryo selaku Kasi Pembangunan Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Bidang Program dan Pembangunan Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuasin dan Kirman selaku swasta yang bertugas sebagai pengepul dana. Lalu seorang pengusaha bernama Zulfikar Muharrami juga ditangkap.

Dari tangan Yan, KPK menyita uang Rp 299.800.000 dan USD 11.200. Kemudian dari tangan Sutaryo, KPK menyita Rp 50 juta. Lalu dari tangan Kirman, KPK menyita bukti setoran biaya haji ke sebuah biro perjalanan haji sebesar Rp 531.600.000.

"Uang Rp 531.600.000 untuk berdua, suami-istri. Uang itu diduga pemberian dan fasilitas biaya haji itu dari ZM (Zulfikar Muharrami) tadi itu (untuk Yan dan istrinya," kata Basaria.

Pemberian itu dilakukan Zulfikar atas permintaan Yan yang memanfaatkan sejumlah proyek di wilayahnya. Yan melihat adanya kesempatan untuk meminta uang kepada para pengusaha yang ingin mendapatkan proyek di wilayahnya.

Atas perbuatannya, KPK menetapkan Yan, Rustami, Umar, Kirman, dan Sutaryo sebagai penerima suap dengan sangkaan melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 Undang-undang nomor 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dengan Undang-undang nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

Kemudian KPK juga menjerat Zulfikar sebagai tersangka pemberi suap dan disangka melanggar Pasal 5 ayat 1 huruf a atau Pasal 5 ayat 1 huruf b atau Pasal 13 Undang-undang nomor 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dengan Undang-undang nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.




(dhn/rvk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed