DetikNews
Selasa 09 Agustus 2016, 17:50 WIB

Soal 14 Pilot Dipecat, Bos Lion Air Rusdi Kirana: Kalau Ada Sesuatu Jangan Sabotase

Andhika Prasetia, - detikNews
Soal 14 Pilot Dipecat, Bos Lion Air Rusdi Kirana: Kalau Ada Sesuatu Jangan Sabotase Foto: Andhika/detikcom
Jakarta - Bos Lion Air Rusdi Kirana menyampaikan pemecatan 14 pilot yang bekerja di maskapainya menjadi pelajaran. Dia menegaskan, apabila terjadi sesuatu jangan langsung melakukan mogok kerja.

"Pilot itu, kita punya ribuan. Intinya, kalau kita ada sesuatu, harapannya, itu harus diselesaikan bukan melakukan sabotase. Sabotase yang mereka lakukan dengan melakukan penerbangan terakhir. Sampai Medan, sampai Bali, sampai Surabaya, balik-balik mereka nggak mau terbang, itu kan sabotase namanya," jelas Rusdi di sela peresmian Gedung Lion Parcel di Jakarta, Selasa (9/8/2016).

"Kalau mereka mau mogok, boleh, tetapi kasih pemberitahuan dong. Kamu mau mogok sebulan lagi, seminggu lagi, jadi kami bisa buat pembukuannya," terang dia.

Menurut Rusdi, pihak manajemen sudah berbuat benar. Sebagai contoh, kalau memang manajemen tidak benar pasti baru bekerja satu tahun sudah berhenti.

"Maaf-maaf nih, zaman baheula saja, perempuan saja nggak ada yang kerja 22 jam. Yang kami harapkan, kalau ada ketidakpahaman, bisa diselesaikan ke dalam, jangan mensabotase. Kalau sabotase yang dirugikan penumpang, ribuan penumpang terlantar. Itu yang namanya memaksakan kehendak. Mereka itu yang 15-20 tahun itu kontrak pelatihan, bukan kontrak kerja. Mereka di hire dari SMA lulus, langsung di training hingga menjadi pilot dengan gaji puluhan juta. Harusnya kan, maaf ngomong, hargai kami dong," urai dia.

Menurut Rusdi, para pilot ini sejak SMA direkrut dan dibiayai. Bahkan sampai meminjam uang ke bank untuk training.

"Kita latih mereka, 2,5 - 3 tahun sudah jadi penerbang. Nah, kita kan ada investasi. Kalau mereka mau berhenti, perusahaan yang membajaknya harus membayar dong. Mengenai Rp 7 miliar itu, saya nggak tahu angkanya ya. Tapi sekarang, anda lulusan SMA, kalau anda tidak suka ya jangan tanda tangan kontrak," jelas dia.

"Tetapi selama Anda bekerja, gaji Anda naik sesuai kebijakan perusahaan. Mereka boleh berhenti, tetapi harus mengganti rugi sesuai dengan kesepakatan. Tetapi jangan karena Anda lulusan SMA, sudah dilatih, lalu mengeluh. Kalau hukuman dari dari penerbangan, hanya berlaku jika Anda mabuk, kriminal, yang kami harapkan tetap ditelusuri apa penyebabnya," tegas dia.
(dra/dra)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed