DetikNews
Senin 16 Mei 2016, 16:09 WIB

Guru Tertipu Janji Dinikahi Pria Lewat Facebook, Uangnya Rp 650 Juta Raib

Mei Amelia R - detikNews
Guru Tertipu Janji Dinikahi Pria Lewat Facebook, Uangnya Rp 650 Juta Raib Foto: Rilis kasus penipuan via Facebook di Polda Metro Jaya (Mei Amelia/detikcom)
Jakarta - Penipuan online dengan modus 'Nigerian Sweetheart' kembali memakan korban. Seorang wanita berinisial NP (37) yang berprofesi sebagai guru menjadi korban penipuan tersebut. Uang ratusan juta rupiah miliknya pun raib.

Tindak pidana penipuan tersebut dilakukan oleh 3 orang tersangka, yakni seorang pria WN Nigeria berinisial ARC (32), dan 2 wanita berkebangsaan Indonesia yakni MM (20) dan RN (43).

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Awi Setiyono mengatakan, penipuan ini dilakukan komplotan tersebut melalui media sosial Facebook.

"Ditangkap 3 orang komplotan penipuan melalui Facebook dengan modus mengaku sebagai tentara Amerika melalui akun Facebook-nya," ujar Awi Setiyono kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Senin (16/5/2016).

Foto: Rilis kasus penipuan via Facebook di Polda Metro Jaya (Mei Amelia/detikcom)

Para tersangka ditangkap atas laporan korban dalam laporan resminya bernomor LP/2242/V/2016/PMJ/Ditreskrimsus tanggal 10 Mei 2016 lalu. Atas kasus tersebut, korban mengalami kerugian Rp 650 juta.

Kasubdit Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Metro Jaya AKBP Suharyanto mengatakan, penipuan tersebut berawal ketika korban menerima permintaan pertemanan via Facebook dari seseorang dengan akun Eldho Markose sekitar Agustus 2015 silam.

"Dalam akun tersebut, tersangka ARC yang mengoperasikan Facebook akun Eldho Markose ini mengaku sebagai tentara Amerika dengan memasang foto-foto tentara Amerika berkulit putih," ujar Suharyanto.

Setelah berteman, tersangka ARC akan melakukan komunikasi intensif dengan korban via Facebook Messenger. Dalama cerita rekayasanya itu, tersangka menggunakan bahasa Indonesia mengatakan berkisah kepada korban bahwa dia seorang tentara Amerika yang ditugaskan di Afganistan dan mendapatkan harta karun sekitak uang sebesar USD 1,5 juta.

"Tersangka juga mengatakan sedang mencari calon istri dan memikat korban dengan mengajaknya menikah, dan akan membawa harta karun tersebut ke Indonesia serta tinggal dengan korban di Indonesia," terang Suharyanto.

Iming-iming Pernikahan

Seiring berjalannya waktu, korban pun mulai tertarik dengan tersangka 'Eldho'. Apalagi, tersangka terus menebarkan rayuan kepada korban yang berjanji akan menikahinya setibanya uang dan dirinya di Indonesia. "Korban pun akhirnya tertarik dan mau mengikuti kemauan tersangka untuk mentransfer sejumlah uang," imbuhnya.

Untuk meyakinkan korban, tersangka ARC memperalat teman wanitanya, tersangka NM yang ditugaskan untuk mengaku sebagai petugas bea dan cukai Bandara Ngurah Rai, Denpasar, Bali. Lewat NM inilah, tersangka meminta korban mentransferkan sejumlah uang dengan alasan uang tersebut digunakan untuk bisa meloloskan 'paket kotak uang USD 1,5 juta' dari pemeriksaan Bea Cukai.

"Akhirnya korban mentransfer uang tersebut beberapa kali dengan total Rp 650 juta," cetusnya.

Aksi tipu-tipu ini baru disadari korban ketika mulai mencurigai permintaan tersangka yang memintanya untuk mengirim uang terus-menerus. Korban mulai sadar ketika handphone yang digunakan tersangka untuk berkomunikasi dengan korban sudah tidak aktif lagi.

Korban kemudian melaporkan kasus tersebut ke Polda Metro Jaya. Sehingga para pelaku berhasil dibekuk oleh Tim Subdit Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Metro Jaya di Apartemen Nias, Kelapa Gading, tanggal 13 Mei 2016 lalu.

Dari kasus ini juga terungkap peran seorang wanita lain berinisial RN yang bertugas membuat rekening aspal (asli tapi palsu). Baik RN dan NM mendapatkan fee dari tersangka ARC sebesar 10 persen.

"Uang hasil kejahatan sebagian ditukarkan ke dalam bentuk USD dan Ringgit, kemudian ada yang dibelikan sejumlah perhiasan. Sebagian lagi ditransfer tersangka ARC ke keluarganya di Nigeria," imbuhnya. ARC diketahui sudah tinggal di Indonesia selama 2 tahun.

Dari para tersangka, polisi menyita barang bukti sejumlah perhiasan emas, USD 800, uang 1.000 RM, 3 buah laptop, 15 handphone, 10 buku tabungan, 13 kartu ATM. Atas kejahatan itu, para tersangka dijerat dengan Pasal 378 dan 263 KUHP, Pasal 28 ayat (1) jo Pasal 45 ayat (2) UU No 11 Tahun 2008 tengang Informasi dan Transaksi Elektronik dan Pasal 3,4,5 UU No 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang dengan ancaman penjara 20 tahun.
(mei/hri)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed