detikNews
Rabu 30 Desember 2015, 06:16 WIB

Mencari Tahu Motif di Balik Beredarnya Terompet Bersampul Alquran

Rini Friastuti - detikNews
Mencari Tahu Motif di Balik Beredarnya Terompet Bersampul Alquran Foto: Robby Bernardi/detikcom
Jakarta - Menjelang tutup tahun, terompet berbahan sampul Alquran beredar. Entah dimulai dari mana, tiba-tiba salah satu 'perlengkapan' menyambut tahun baru itu memicu keresahan publik.

Penyebarannya pun muncul di Jawa Tengah, Jawa Timur hingga di Ibu Kota Jakarta. Polisi pun bergerak dengan menyita berton-ton bahan baku pembuat terompet berupa sampul Alquran dan meminta keterangan dari para pedagang terompetnya.

Namun satu hal yang masih mengganjal yaitu tentang motif beredarnya terompet tersebut. Kapolri Jenderal Badrodin Haiti menyebut bahwa polisi tak tinggal diam dan masih menyelidiki perkara tersebut.

"Itu sedang penyelidikan, panjang itu ceritanya. Itu dari sana (Jateng) kemudian Wonogiri, Solo, ke Kudus dan lainnya sehingga masih penyelidikan," ujar Kapolri kepada wartawan di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jaksel, Selasa (29/12/2015) malam.

"Motif ya belum sampai, belum ketemu orang yang buat," sambung Badrodin.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin sendiri meminta supaya aparat kepolisian mengusut tuntas masalah sampul Alquran yang dijadikan terompet tahun baru tersebut. Bersama aparat kepolisian setempat, tim Kementerian Agama sedang mendalami permasalahan ini di lapangan. Tim tersebut dijadwalkan pekan ini Kamis (31/12) akan memberikan keterangan sebagai saksi ahli oleh aparat kepolisian yang mengusut kasus ini.

"Mudah-mudahan masalah ini bisa segera dituntaskan. Pihak-pihak yang bertanggung jawab harus mempertanggungjawabkan perbuatannya," kata Lukman Hakim Saifuddin melalui keterangan tertulisnya.

Menurut Luqman, sampul Alquran yang dijadikan bahan terompet adalah perbuatan yang tidak patut. Sisa bahan dari proses pencetakan Al-Quran seharusnya dihancurkan agar tidak digunakan untuk hal-hal lainnya.

"Pasal 5 Peraturan Menteri Agama (PMA) No 01 Tahun 1957 tentang Pengawasan terhadap Penerbitan dan Pemasukan Alquran mengatur bahwa sisa dari bahan-bahan Alquran yang tidak dipergunakan lagi, hendaklah dimusnahkan untuk menjaga agar jangan disalahgunakan," papar Lukman.

Secara terpisah, suara lantang didengungkan Ketua Dewan Pertimbangan MUI Din Syamsuddin. Menurut Din, perkara soal terompet bersampul Alquran itu harus dibawa ke ranah hukum.

"Maka jalan terbaik adalah penyelesaian secara hukum, yaitu menyeret terduga pelakunya baik pembuat maupun penerima, toko yang menjualnya ke jalur hukum. Perlu diusut tuntas hingga menyingkap aktor intelektual di balik peristiwa ini," ujar Din.

Sejak hari Minggu (27/12), setelah seorang warga yang juga merupakan tokoh agama di Kebondalem, Kabupaten Kendal menemukan terompet tersebut di minimarket, kepolisian langsung menindak lanjuti dan menarik terompet dari seluruh  minimarket yang menjualnya di Kendal. Barang serupa juga ditemukan di Kota Pekalongan.

Kepolisian menegaskan tidak ada unsur kesengajaan dalam produksi maupun penjualan terompet berbahan sampul Alquran. Penjual dan produsen juga sudah meminta maaf terkait peristiwa itu.

"Tidak ada unsur kesengajaan, itu diakui yang bersangkutan," kata Kabid Humas Polda Jawa Tengah, Kombes Pol Liliek Darmanto kepada detikcom, Selasa (29/12/2015).

Polisi juga sudah memintai keterangan warga Semanggi, Klaten bernama Sunardi yang merupakan penjual bahan mentah berupa kertas-kertas termasuk sampul Alquran.

Dari keterangan Sunardi, ia sudah berbisnis kertas bekas itu sejak tahun 1997 dan terakhir ia membeli dari perusahaan penerbit tanggal 3 November 2015 sebanyak 7.157 kg. Jumlah tersebut tidak semuanya sampul Alquran. Di rumah Sunardi polisi mengamankan dua lebar sampul Alquran dan dua dan enam lembar sampul Surat Yasin dan Tahlil.

Namun ternyata tidak hanya di Kendal, Jawa Tengah, ditemukan terompet bertuliskan tulisan indah (kaligrafi) Alquranul Karim (Alquran yang mulia). Di Glodok, Jakarta Barat, yang berjarak 448 km dari Kendal juga ditemukan, namun wujudnya berbeda.

Di Kendal, terompet itu dilaporkan beredar di minimarket Alfamart, dijual Rp 3.500 per satuan. Terompet itu terbuat dari sampul Alquran. Di sampul tersebut terdapat tulisan kaligrafi Alquranul Karim dan tulisan lembaga Kementerian Agama 2013. Diduga sampul Alquran itu merupakan sisa pencetakan. Terompet itu telah ditarik dari pasaran dan pemasoknya meminta maaf.


(dhn/dhn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com