Laporan dari AS

Konser Angklung Pertama di Amerika Hipnotis Penonton

Shohib Masykur - detikNews
Senin, 21 Sep 2015 05:33 WIB
Foto: Shohib Masykur/detikcom
Washington DC - Konser angklung untuk pertama kalinya dilangsungkan di Amerika Serikat. Pertunjukan yang  dimeriahkan oleh penampilan Elfa's Singers dan Shakila tersebut menghipnotis 500 penonton yang memadati kursi teater.

Konser bertajuk "Pulau: The  Angklung Concert" itu digelar Sabtu (19/9/2015) malam, bertempat di Montgemory College Cultural Arts Center. Penyelenggaranya adalah House of Angklung (HoA), sebuah komunitas musik tradisional di Washington DC yang berdiri sejak 2007.

"Konser ini antara lain untuk memperingati lima tahun ditetapkannya angklung sebawai warisan budaya dunia oleh UNESCO," kata konduktor HoA, Tricia Sumarijanto, kepada detikcom.



Sebagai pembuka, 33 anak-anak dari Reid Temple Christian Academy dan Kelas Bahasa Indonesia membawakan lagu America the Beautiful, Twinkle Twinkle Little Star, dan Tokecang. Audiens menyambut meriah penampilan anak-anak ini dengan tepuk tangan yang membahana.

Selanjutnya mereka disuguhi alunan musik angklung yang dipadukan dengan berbagai alat musik, timur hingga barat. Gendang, suling, kulintang, talempang beradu merdu dengan saxophone dan violin, mengiringi alunan lagu Bubuy Bulan, Bengawan Solo, Bungong Jeumpa, Sinanggar Tulo, dan masih banyak lagi.



"Kami menampilkan lagu dari berbagai daerah di Indonesia. Oleh karena itu tagline kami adalah a musical journey through Indonesia and beyond featuring the beautiful sound of angklung," kata Tricia.

Shakila dan Elfa's Singers turut memeriahkan pertunjukan dengan vokal mereka yang luar biasa. Sebagai penutup, lantunan We Are the World mengajak seluruh audiens merenungkan kembali peran mereka untuk membuat dunia jadi lebih baik.



Konser angklung ini merupakan terobosan yang patut dicatat. Pasalnya, belum pernah ada konser serupa di Amerika sebelumnya.

"Kalau angklung dipentaskan di suatu acara sih sudah sering. Tapi kalau khusus diselenggarakan konser angklung, sepanjang pengetahuan saya ya baru kali ini," kata Tricia.

Dia menuturkan, persiapan konser memakan waktu sekitar tiga bulan. Karena para pemainnya bukan kalangan profesional yang secara total mendedikasikan diri untuk musik, jadwal kerap menjadi kendala.

"Jarang sekali kita bisa latihan secara full team karena selalu ada saja yang punya kegiatan lain di saat yang bersamaan. Tapi dengan segala kekurangan kami mengingat kami bukan pemusik prefesional, hal tersebut bisa dimaklumi," kata Tricia.



Persoalan dana juga jadi tantangan tersendiri. Tak mudah mencari uang  untuk membiayai konser musik tradisional Indonesia yang digelar di Amerika. Pasarnya belum terbentuk secara solid sehingga penjualan tiket tidak bisa dijadikan sumber utama pendanaan. Mencari sponsor pun tidak gampang.

"Syukurlah banyak pihak yang mensupport. Misalnya, KBRI membantu mencarikan sponsor dari perusahaan asing. Kemudian cabang-cabang perusahaan Indonesia yang ada di Amerika juga turut menjadi sponsor. Bantuan paling besar datang dari Kemdikbud lewat Rumah Budaya Indonesia. Kami berterima kasih sekali kepada pihak-pihak yang telah membantu sehingga  acara ini bisa terlaksana," katanya.



Di luar dugaan, animo masyarakat ternyata amat tinggi. Tiket seharga USD20 untuk dewasa dan USD12 untuk anak-anak/orang tua yang baru dijual tiga minggu sebelum acara ludes dalam dua minggu. Bahkan banyak yang masih masuk daftar tunggu dan tidak kebagian tiket hingga hari pementasan. Dengan kapasitas 500  kursi, hal tersebut cukup mencengangkan. Terlebih, sekitar 40 persen penontonnya adalah warga non-Indonesia.

"Saya sendiri juga kaget. Biasanya untuk acara semacam ini bisa laku 200 saja sudah bagus banget. Ini malah sampai habis dan masih banyak yang waiting list. Benar-benar di luar dugaaan," aku Tricia girang.

Hal itu barangkali lantaran HoA sudah memiliki basis penggemar tersendiri di DC dan sekitarnya. Terlebih, HoA memiliki program untuk memperkenalkan angklung ke sekolah-sekolah yang dinamai Angklung Goes To School (AGTS). Selain itu, mereka juga menggunakan sosial media dan radio untuk publikasi.

"Itu membuat informasi mengenai konser menyebar dengan cepat dengan jangkauan yang luas," kata Tricia.

Foto: Isti kuhn/KBRI Washington DC


Meski dia mengaku HoA bukanlah kelompok musik profesional, namun konser itu sendiri terkesan profesional. Tak kurang Dubes Indonesia untuk AS, Budi Bowoleksono, yang melontarkan pujian.

"Sebuah konser yang baik sekali, menyeluruh, dan diselenggarakan dengan sangat profesional. Kita lihat tiket fully booked. Itu suatu testimoni bahwa angklung sudah mulai banyak dimengerti dan digemari di sini. Kita juga lihat bahwa angklung  bisa luwes dikolaborasikan dengan musik tradisional maupun modern sehingga bisa diterima secara luas," kata Dubes yang punya minat besar terhadap musik ini.

Dia menambahkan, angklung merupakan piranti diplomasi budaya yang efektif untuk mempromosikan Indonesia.

"Kita tahu sekarang diplomasi banyak aktornya. Angklung ini merupakan bagian dari diplomasi budaya, yang juga sangat efektif dalam menjangkau dan mempromosikan Indonesia. Harapan kita, angklung ke depannya terus coba dibuka lagi keluar dan dikolaborasikan dengan genre musik yang lain," ujarnya.

Foto: Shohib Masykur/detikcom


Di antara yang jadi penonton adalah Doningue yang datang bersama istrinya, Beth. Pasangan ini dulunya  pernah tinggal di Indonesia. Mereka mengaku senang sekali dapat mendengarkan lagi alunan musik angklung yang sudah lama tak mereka dengar.

"Ini mengingatkan kami pada kenangan indah tinggal di Indonesia. Dulu kami sering mendengarkan musik-musik Indonesia saat berkunjung ke berbagai daerah. Sangat luar biasa bahwa kami bisa menonton pertunjukan  ini. Kami harap akan ada pertunjukan-pertunjukan yang lain," kata Doningue.

Foto: Isti kuhn/KBRI Washington DC


Setelah konser, lalu apa? Itu menjadi perhatian HoA. Mereka tidak ingin perjalanan angklung di Amerika berhenti sampai di konser saja. Oleh karena itu, mereka akan mengintensifkan program pengenalan angklung ke anak-anak di Amerika lewat sekolah-sekolah yang telah berjalan sejak 2011. Secara lebih besar, program ini bertujuan untuk meningkatkan people-to-people contact antara Indonesia dengan Amerika.

"Salah satu hal yang paling berkesan buat saya di konser ini adalah antusiasme anak-anak terhadap angklung. Konser ini mampu menginspirasi mereka untuk bangga terhadap angklung dan terhadap Indonesia. Kami akan lebih menggiatkan lagi program untuk menjangkau anak-anak ke sekolah-sekolah dan menjadikan angklung diterima oleh kalangan yang lebih luas," tandas Tricia. (imk/imk)