DetikNews
Jumat 22 Mei 2015, 17:15 WIB

Mengenal Dirkrimum Polda Metro Kombes Krishna: dari Kalijodo Sampai Yaman

Mei Amelia R - detikNews
Mengenal Dirkrimum Polda Metro Kombes Krishna: dari Kalijodo Sampai Yaman dok.pribadi
Jakarta - Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Unggung Cahyono melantik sejumlah perwira setingkat pejabat utama hingga Kapolres sore tadi. Kombes Krishna Murti termasuk salah satu yang dilantik sebagai Dirkrimum Polda Metro Jaya yang menggantikan Kombes Heru Pranoto.

Lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) tahun 1991 ini memulai kariernya di Polda Jawa Tengah. Pada tahun 1994-1996, Krishna dipercaya sebagai Pengasuh Taruna Akpol hingga kemudian diangkat sebagai Kanit Serse Polwiltabes Surabaya pada tahun 1997-1998.

Tahun 1996, ia ditunjuk sebagai Komandan Kontingen Polri untuk misi perdamaian PBB di Bosnia. Ia termasuk anggota Polri pertama yang masuk ke Darfur tahun 2008. Selama bertugas di PBB, ia telah menjejakkan kakinya di sedikitnya 50 negara bagian di Afrika, Timur Tengah, dan Eropa dari Uganda, Libya hingga Afganistan.

Selanjutnya, ayah dua anak ini melanjutkan studi kesarjanaan di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) pada tahun 1999. Di Angkatan XXXV PTIK, Krishna lulus pada tahun 2000 sebagai mahasiswa dengan peringkat terbaik pertama.

Krishna Murti ‎bukanlah orang baru di Polda Metro Jaya. Kariernya di Polda Metro Jaya dimulai sebagai Sespripim Kapolda Metro pada tahun 2000. Ia bahkan dipercaya menjadi Sespripim Kapolda hingga pergantian 4 Kapolda Metro Jaya yakni Irjen (Purn) Nurfaizi, Irjen (Purn) Mulyono, Komjen (Purn) Makbul Padmanegara dan Irjen (Purn) Firman Gani.

Tahun 2001-2004, Krishna diangkat sebagai Kapolsektro Penjaringan.‎ Selama 3 tahun menjabat sebagai Kapolsektro Penjaringan, Krishna menorehkan sejumlah prestasi di sana, di antaranya mengungkap pembunuhan bos PT Asaba, Boedyharto Angsono yang diotaki oleh Gunawan Santosa.

Tidak hanya itu, perwira menengah (Pamen) ini juga merupakan polisi yang pertama kali berhasil membubarkan lokalisasi di Kalijodo yang fenomenal selama menjabat sebagai Kapolsek Penjaringan. Setelah berhasil menekan angka kejahatan tertinggi di Polsek Penjaringan, Krishna kembali dipercaya menjadi Koordinator Sekretaris Pribadi Pimpinan Kapolda Metro Jaya Irjen (Purn) Firman Gani tahun 2004-2005.

Selepas menjabat sebagai Koorspipim pada tahun 2005, ia dipercaya sebagai Kasat Reskrim Jakarta Utara. Selama satu tahun di Jakarta Utara, ia kemudian diangkat sebagai Wakapolres Depok pada tahun 2006.

Selanjutnya, Krishna diangkat sebagai dosen di Lemdikpol Setukpa selama tiga tahun, hingga akhirnya pada 2009 ia mengikuti pendidikan Sespim. Satu tahun setelah lulus Sespim pada 2010, ia kemudian ditempatkan sebagai penyidik di Bareskrim Mabes Polri.

Puncak karirnya di bidang reserse dimulai di Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri. Ia adalah perwira yang menjadi Ketua Tim dalam mengungkap kasus pembobolan Citibank yang melibatkan pegawai seniornya Inong Malinda alias Malinda Dee.

Krishna juga menjadi kepala tim khusus yang mengungkap pembobolan BCA modus skimming di Bali ketika ramai pada tahun 2010 lalu. Ia juga pernah terlibat dalam pengungkapan kasus pajak Gayus Tambunan, juga berhasil mengembalikan aset Bank Century senilai USD 22 juta bersama timnya saat itu.

Dengan segudang prestasinya itu, Krishna akhirnya diangkat sebagai Kapolres Pekalongan. Namun hanya 40 hari ia menduduki kursi tersebut karena terpilih sebagai anggota Polri untuk ditugaskan di PBB di New York. Di sana, ia ditunjuk sebagai perencana kepolisian selama 2 tahun.

Pulang dari Negeri Paman Sam, Krishna lolos untuk melanjutkan pendidikan Sespimti. Ia kembali menjadi lulusan Sespimti Angkatan 91 terbaik, sekaligus termuda di angkatannya.

Sebelum diangkat sebagai Dirkrimum Polda Metro Jaya, Krishna dipercaya kembali menjadi Kepala Satgas Tim Evakuasi WNI di Yaman yang sedang dilanda konflik antara kelompok Al Houthy dengan militer koalisi Arab Saudi. Selama beberapa pekan evakuasi, Krishna dan tim mempertaruhkan jiwa dan raganya untuk melakukan misi kemanusiaan tersebut.

Dengan sejumlah pengalamannya di reserse, ia cukup mumpuni memegang kendali sebagai ‎Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya. Tidak hanya di negeri sendiri, Krishna tidak hanya memiliki wawasan ketahanan nasional, tetapi juga internasional. Sebut saja, ia pernah mengambil pendidikan kepolisian di Singapura dan Australia.

Tidak hanya mumpuni dalam karirnya, sebagai polisi Krishna juga memiliki kemampuan menulis, literatur internasional hingga networking yang luas. Salah satu buku yang sudah ditelurkan yakni 'Geger Kalijodo' yang menceritakan pengalamannya selama membasmi lokalisasi tersebut saat menjadi Kapolsek Penjaringan.

Sebagai polisi masa kini, ‎pria kelahiran 15 Januari 1970 itu juga aktif di media sosial. Pengalaman-pengalaman yang dipetiknya selama berdinas di PBB dan pendapat pribadinya ia curahkan dalam blog pribadinya catatansibedu.blogspot.com.




(Mei Amelia R/Indra Subagja)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed