DetikNews
Selasa 16 Desember 2014, 10:13 WIB

Tergusur Waduk Jatigede, Hikayat Tirakat ke Makam Keramat Sumedang Mencari Berkah

- detikNews
Tergusur Waduk Jatigede, Hikayat Tirakat ke Makam Keramat Sumedang Mencari Berkah
Sumedang -

Ahdiyat duduk sila di saung dekat area makam keramat Prabu Aji Putih. Sembari menghela nafas, jemari pria berusia 62 tahun ini bergerak membenahi posisi peci yang melekat di kepala. Sekilat mimik Ahdiyat memancar isyarat serius.

"Mun aya jelema niat hayang beunghar ka makam ieu, ku abdi langsung titah balik (kalau ada orang punya niat ingin kaya ke makam ini, sama saya suruh pulang)," ucap Ahdiyat sewaktu berbincang bersama detikcom, pekan lalu.

Siang itu langit menggelayut mendung. Ahdiyat baru kelar kedatangan peziarah, dua pria dan satu perempuan dewasa, ke Situs Ciepeueut I yang dipercaya makam leluhur Prabu Aji Putih. Letak makamnya di Kampung Cipeueut, Desa Cipaku, Kecamatan Darmaraja, Kabupaten Sumedang. Makam keramat tersebut salah satu situs cagar budaya yang terancam tergenang akibat dampak pembangunan Waduk Jatigede.

Sejak 14 tahun lalu Ahdiyat didapuk menjadu juru kunci makam Prabu Aji Putih. Prabu Aji Putih raja pertama Kerajaan Tembong Agung yang merupakan cikal bakal Kerajaan Sumedanglarang.

"Peziarah sekadar silaturahmi. Tidak aneh-aneh. Ziarah biasa saja ke makam leluhur. Kalau ada yang tirakat, paling hanya sampai tiga hari," tutur sang kuncen tersebut.

Ahdiyat tak membantah soal hikayat banyak peziarah melakukan tirakat ke makam keramat untuk berharap mendapat ilafat. "Saya ingatkan (kepada peziarah), paling utama niatkan berdoa dan mencari berkah kepada Allah," ujar Ahdiyat.

Ziarah ke makam keramat menjadi tradisi biasa bagi masyarakat Indonesia. Umumnya, peziarah medekat ke pusara makam yang dikeramatkan sambil mendoakan bertawasul (berperantara) melalui perantara kemuliaan (karomah) leluhur.

Ahdiyat berkisah sering 'menangkal' peziarah yang niatnya menyimpang. "Ada peziarah nanya ke saya, terus bilang ingin cepat kaya. Ya saya tolak ziarah ke makam ini," ucap Ahdiyat.

Senada diutarakan Abas Wibawa, kuncen Situs Kapunduhan. Situs ini terletak di Kampung Cipeundeuy, Desa Sukaratu, Kecamatan Darmaraja, Kabupaten Sumedang.

Lelaki usia 62 tahun tersebut sejak 1995 mengawal makam Embah Ratu Wulung. "Mau mencari kesaktian dan ingin beunghar (kaya) mah enggak saya terima," ujar Abas saat ditemui di area makam.

Dia mengaku kesal jika meladeni ulah peziarah yang menodai tata cara ziarah ke makam keramat. "Saya bilang, kalau mau kaya itu ya kerja," ucap Abas bernada kesal.

Menurut Abas, pernah ada seorang pria menyambangi makam Embah Ratu Wulung yang niat awal kepadanya ingin silaturahmi. Tiba-tiba pria itu malah ingin bermalam. Katanya ingin bertapa. Tapi peziarah itu lari terbirit-birit sambil mengaku kepada Abas melihat 'penampakan'.

"Ternyata peziarah itu niatnya mencari ilafat untuk nomor buntut. Ya saya marahi dan suruh pulang saja," ucap Abas sambil tertawa.

Ahdiyat dan Abas mengaku mayoritas peziarah tidak pernah berbuat macam-macam seperti menggelar ritual mistis atau upacara pesugihan. Selama mengemban juru kunci makam keramat, keduanya tak menemukan peziarah mendadak kesurupun atau kerasukan makhluk gaib.


(bbn/ndr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed