DetikNews
Kamis 03 Apr 2014, 04:13 WIB

Doa Bersama, Paeri Ingin Satinah Kembali Berkebun

- detikNews
Doa Bersama, Paeri Ingin Satinah Kembali Berkebun
Semarang, - Lantunan doa terdengar syahdu di rumah bercat warna krem di Dusun Mrunten Wetan, Desa Kalisidi, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang. Doa tersebut ditujukan untuk penghuni rumah yaitu Satinah yang terancam hukuman pancung di Arab Saudi.

Doa bersama dihadiri puluhan warga sekitar dan beberapa dari pemerintahan Kabupaten Semarang termasuk Bupati Semarang, Mundjirin. Sebelum memulai doa bersama, kakak Satinah, Paeri Al Feri mengatakan mujahadah tersebut bertujuan agar doa-doa terkabul dan Satinah selamat dari hukuman mati.

"Semoga Satinah, adik saya bisa bebas dari hukuman pancung dan bisa kembali berkumpul dengan keluarga," kata Paeri sebelum doa dimulai, Rabu (2/4/2014).

Sementara itu Bupati Semarang, Mundjirin juga mengungkapkan rasa prihatinnya kepada keluarga Satinah di rumah. "Kami atas nama pribadi dan Pemkab Semarang ikut prihatin, semoga Mujahadah ini bisa menolong," tandasnya.

Sekitar satu jam Mujahadah berlangsung dan dipimpin oleh tokoh agama di sekitar rumah Satinah, Jumadi. Usai doa, Paeri kembali mengungkapkan keinginannya agar Satinah bisa kembali berkumpul dengan keluarga dan bekerja apa saja di Indonesia.

"Biasanya ya buruh, menanam. Ya kalau pulang mending menanam di kebun. Kerja di sini saja, tidak usah kembali (kerja sebagai TKW)," ujarnya.

Doa-doa yang dilantunkan oleh puluhan warga itu juga mengharapkan agar keluarga dari pihak korban di Arab Saudi bisa terbuka pintu maafnya. "Ini namanya ikhtiar. Sampai Presiden juga. Saya sudah bilang ke pak Gubernur untuk mengadakan doa bersama di sini," imbuh Bupati.

Satinah dipenjara pada tahun 2009 karena membela diri hingga hingga majikannya yang bernama Nurah binti Muhammad Al Gharib meninggal pada 2006. Dianggap sudah melakukan pembunuhan, Satinah divonis hukuman mati oleh pemerintah Arab Saudi.

Pemerintah kemudian melakukan lobi dan hukuman mati yang divonis kepada Satinah bisa diubah menjadi dimaafkan apabila mendapat maaf dari keluarga. Kabarnya pada 3 April ini batas pembayaran diyat sebesar Rp 21 miliar yang menurut informasi bisa "dicicil" Rp 15 miliar.

"Kita doakan saja. Ketentuannya besok, di sana (Arab) sekarang masih siang kalau tidak salah, masih tanggal 2 April," tegas Mundjirin.

  • Doa Bersama, Paeri Ingin Satinah Kembali Berkebun
  • Doa Bersama, Paeri Ingin Satinah Kembali Berkebun

(alg/fdn)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed