DetikNews
Selasa 29 Oct 2013, 16:27 WIB

Kasus Akil Mochtar

KPK Geledah Rumah Walikota Palembang, Ada Aroma Tak Sedap Saat Sidang di MK?

- detikNews
Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menggeledah rumah dan kantor wali kota Palembang Romi Herton. Diduga, penggeledahan ini terkait kasus baru Akil Mochtar. Apakah ada yang janggal saat sengketa di MK?

Kasus ini bergulir di MK pada bulan Mei 2013 lalu. Akil kala itu sudah jadi ketua dan memimpin sidang panel.

Yang menjadi pelapor dalam sengketa ini adalah pasangan Romi Herton dan Harno Joyo. Mereka menggugat KPU dan pasangan pemenang yang ditetapkan KPU, Sarimuda dan Nelly Rasdiana. Kala itu, pasangan Sarimuda-Nelly menang dengan selisih 8 suara dari Romi-Harno.

Nah, ketika dibawa ke MK, keputusan KPU pun berubah. Pasangan Romi-Harno berbalik jadi pemenang atas Sarimuda-Nelly dengan selisih 23 suara. Akil yang memutuskan perkara tersebut.

\\\"Mengabulkan permohonan Pemohon untuk sebagian,\\\" ucap Akil kala itu.

Hasil ini didapat setelah MK melakukan pemeriksaan dan penghitungan terhadap lima kotak suara dari empat kelurahan. Lima kotak suara yang diperiksa oleh MK ialah TPS 13 Kelurahan Karya Jaya, TPS 5 Kelurahan Talang Semut, TPS 20 Kelurahan Talang Aman, serta TPS 3 dan TPS 13 Kelurahan Suka Jaya.

Dengan demikian, MK menyatakan, pasangan Romi-Harno jadi pemenang dengan 316.919 suara. Sedangkan Sarimuda-Nelly mendapat 316.896 suara. Berbeda dengan keputusan KPU sebelumnya, yakni Romi-Harno mendapat 316.915 suara, Sarimuda-Nelly 316.923 suara.

Adakah sesuatu yang janggal dalam putusan itu? Salah satu anggota kuasa hukum Sarimuda-Nelly, Yusril Ihza Mahendra, mengungkapkan dugaan itu. Terutama dalam proses penghitungan ulang.

Menurut Yusril, hakim MK yang dipimpin Akil meminta agar kotak suara dibawa dari Palembang. Awalnya, kubu Yusril menolak, karena tak ada yang bisa menjamin keasliannya setelah diobok-obok saat Pilkada lalu.

\\\"Sudah hampir 1,5 bulan lalu. Siapa yang jamin itu masih utuh,\\\" kata Yusril saat berbincang dengan detikcom, Selasa (29\/10\/2013).

Setibanya di Jakarta, kotak suara itu rupanya tidak dihitung secara bersama-sama di persidangan. Tak ada saksi atau berita acara perhitungan ulang. Tiba-tiba, hasilnya diumumkan saat putusan.

\\\"MK sudah menghitung sendiri. Di mana ngitungnya, kapan dan sama siapa nggak jelas. Nggak benar caranya,\\\" tanya advokat senior ini.

Belakangan, pasangan penggugat dinyatakan menang berdasarkan penghitungan ulang MK. Klien Yusril pun kalah. Padahal, bila dihitung kembali, angka yang dibuat oleh MK tidak sesuai dengan jumlah pemilih.

\\\"Misalnya yang milih 1.000 orang, kalau pakai hitungan MK, yang milih jadi 1.020. Mereka langsung mutus aja. Prinsip dasar dalam peradilan, alat bukti harus dibuka di sidang, dan dipanggil para pihak itu tak ada,\\\" paparnya.

Yusril sempat berusaha mengajukan gugatan ulang ke MK terkait salah hitung tadi, namun ditolak. Akhirnya kubu Sarimuda pun pasrah.

Kejanggalan lainnya adalah sebelum putusan dibacakan, kubu lawan sudah menggelar perayaan. \\\"Ini hampir sama dengan kasus di Tual,\\\" imbuhnya.

Apakah ada aroma suap di balik putusan ini? Yusril mengaku tidak tahu. Sebab tak ada yang pernah memintanya secara langsung. \\\"Tapi kalau ke Pak Sarimuda, bisa saja, saya tidak tahu,\\\" tegasnya.

Tim kuasa hukum, Romi Herton, Alamsyah Hanafiah, belum bisa dihubungi saat dikonfirmasi soal ini.


(mad/nrl)
Ikuti berbagai berita menarik hari ini di program "Reportase Sore" TRANS TV Senin sampai Jumat pukul 16.45 WIB
Komentar ...
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed