DetikNews
Senin 28 Oct 2013, 14:58 WIB

How To Act Indonesian

Celoteh Sacha tentang Sepatu Roda, Go Green dan Topeng Monyet

- detikNews
Celoteh Sacha tentang Sepatu Roda, Go Green dan Topeng Monyet (Foto: Nograhany WK/detikcom)
Jakarta - Sebelum aktif membuat serial video pendek \\\'How To Act Indonesian\\\' dan \\\'Tips Anti Ribet\\\', Sacha Stevenson ternyata pernah menjelajah ujung Pulau Jawa hingga Bali dengan...roller blade alias sepatu roda! Apa yang membuatnya nekat melakukan perjalanan panjang nan melelahkan ini?

Ternyata, ini dilakukan perempuan 31 tahun itu karena kepeduliannya pada lingkungan dan alam. Awalnya, Sacha memutuskan untuk memakai sepatu roda karena frustasi kena macet di Jakarta yang menyita 3-4 jam tiap hari. Jadi Sacha memutuskan melakukan perubahan kecil dengan memakai sepatu roda yang bisa nyelip dan nyempil di antara kendaraan untuk menuju ke tempat tujuan.

Hingga dia berpikiran \\\'Kalau saya maju terus, mungkin bisa sampai Bali\\\'. Lalu tercetuslah ide, bersepatu roda dari Merak ke Bali dalam sebulan. Tak cuma bersepatu roda war-wer-war-wer saja, Sacha membawa pesan \\\'Go Green\\\' dalam misinya, menanam pohon di kota-kota yang dilewati.

\\\"Saya ingin memberikan inspirasi dengan melakukan perubahan kecil saja. Kalau saya bisa bersepatu roda, mungkin kamu bisa tak membuang sampah sembarangan atau bersepeda ke kantor,\\\" kata Sacha kepada detikcom di sebuah kafe di Pejaten Village, Jaksel, Jumat (25\/10\/2013).

Sacha prihatin akan kondisi lingkungan di Jakarta yang dipenuhi kemacetan, polusi serta orang membuang sampah sembarangan.

Membuang sampah sembarangan. Hal ini juga yang diangkatnya dalam salah satu fragmen \\\'How To Act Indonesian\\\' yang menggambarkan ironi. Di satu sisi, orang Indonesia suka kebersihan, menyapu dan mengepel rumahnya setiap hari namun...kemudian membuang sampah itu sembarangan di jalan atau di sungai.

\\\"Nggak habis pikir gimana orang bisa naik mobil terus buka jendela dan melempar sampahnya keluar ke jalan, bukan di tempat sampah. Kalau nggak begitu buangnya ke kali,\\\" tutur Sacha menyatakan keprihatinan sekaligus kepeduliannya.

\\\"\\\"

(Foto: Youtube Sacha Stevenson<\/em>)

Isu lingkungan yang lain yang diangkat Sacha adalah tentang memelihara binatang langka di sini dianggap sudah biasa. Padahal tak seharusnya binatang langka menjadi peliharaan.

\\\"Makanya saya senang kemarin ada kebijakan topeng monyet dilarang,\\\" celetuk \\\'pengangguran\/Youtuber\\\' ini.

Kembali ke sepatu roda, dalam perjalanannya ke Merak-Bali yang ditempuhnya dalam 1 bulan itu, Sacha dipandu beberapa rekannya orang Indonesia yang naik mobil Suzuki Katana lawas miliknya, mengawal dari belakang. Di tengah perjalanan, dia sempat ditabrak motor di Jalan Soekarno-Hatta, Bandung, Jawa Barat.

\\\"Tapi nggak apa-apa kok, bisa lanjut lagi,\\\" jelas Sacha yang secara reguler akan meng-upload video komikalnya tentang Indonesia di Youtube.

Terus sampai sekarang apa masih memakai sepatu roda ke sana kemari? \\\"Sekarang sudah jarang sih. Jalanan Jakarta terlalu berisiko, belum lagi macetnya. Apalagi saya tadi baru lihat kecelakaan, ada pejalan kaki yang lewat busway ditabrak mobil yang nerobos busway, kenceng sampai meninggal pejalan kakinya. Mungkin ini kecelakaan paling menyedihkan yang pernah saya temui,\\\" jawabnya.

Kini bila macet, Sacha memilih ngendon di rumah saja di kawasan Kebagusan, Jaksel, dan tak pergi ke mana-mana. \\\"Apalagi saya tak punya kantor sekarang, jadi mending di rumah aja kalau macet,\\\" ceritanya.