DetikNews
Jumat 25 Oct 2013, 13:59 WIB

Jokowi Berangus Topeng Monyet

Penyiksaan Topeng Monyet, dari Dipukuli hingga Digantung

- detikNews
Jakarta - Razia topeng monyet kembali dilakukan di ibu kota. Dalam beberapa hari razia, sedikitnya 16 ekor monyet bersama pawangnya digaruk tim gabungan yang terdiri di antaranya dari Satpol Pamong Praja dan Dinas Sosial.

Tak cuma menginstruksikan razia kepada jajarannya, Gubernur DKI Joko Widodo (Jokowi) juga aktif turun ke lapangan memantau hasil razia.

Kebijakan Jokowi yang menertibkan topeng monyet direspons positif oleh Jakarta Animal Aid Network (JANN). Manajer Program Penyelamatan Hewan Domestik dari JANN, Karin Franken, mengungkapkan 30 persen dari 40 ekor monyet ekor panjang yang dirawat pihaknya positif terkena TBC dan hepatitis.

Namun, sekarang sudah pulih dan direhabilitasi di pusat penyelamatan satwa Cikananga, Sukabumi. Sebagian hewan yang diambil pada akhir 2011 dari beberapa pelaku sirkus topeng monyet itu terkena penyakit karena kotornya kandang.

\\\"\\\"

Pemberian makan yang asal-asalan juga membuat monyet ini penuh cacing parasit. “Bahaya kalau menular ke manusia. Monyet kalau sudah terkena agak sulit disembuhkan. Beda dengan manusia yang masih bisa meski pengobatannya lama,” kata Karin saat ditemui detikcom di kantornya, Kamis (24\/10).

Berdasarkan penelusuran JANN, menurut Karin, monyet untuk atraksi topeng monyet biasanya berusia muda sekitar delapan atau sembilan bulan. Jantan atau betina bisa digunakan asalkan masih muda. Monyet muda ini dilatih dengan cara disiksa oleh pemilik dalam waktu yang lama.

Agar monyet terus berlatih, seringkali pemilik sengaja tidak memberikan makan. Setelah monyet pintar biasanya akan disewakan atau dijual kepada pelaku topeng monyet.

“Kalau lapar, mereka terus mau gerak. Disiksanya, dipukul, dilatih digantung supaya terus berdiri. Itu kan enggak natural untuk monyet,” kata wanita berkewarganegaraan Belanda ini.

Ketua Komunitas Planet Satwa Milza Permatasari menyoroti peraturan yang membahas sanksi hukuman bagi pelaku topeng monyet agar ada efek jera. Dia menekankan, sebenarnya tidak hanya pelaku topeng monyet yang diberi sanksi tapi juga mulai dari penjual ataupun pemburu hewan primata tersebut.

Menurutnya, karena tidak ada sanksi tegas maka banyak pelaku yang berani mengambil keuntungan dari eksploitasi hewan ini. “Kalau mau tertibkan bahas juga sanksi seperti apa. Karena kalau cuma dibina di panti sosial susah dan enggak ada efek jeranya,” katanya kepada detikcom, Kamis (24\/10).

Razia topeng monyet sudah mulai dilakukan sejak Selasa pekan lalu. Kepala Satpol PP DKI Kukuh Hadi mengakui tim razia yang turun ke lapangan belum menyasar orang-orang yang menyewakan monyet tapi hanya sebatas pelaku yang beroperasi di jalanan.

Kukuh menduga ada pihak yang mengkoordinir para balik pengamen-pengamen topeng monyet. “Pokoknya yang ada di lapangan ditangkap dia yang pemilik monyet. Kadang dia kan tidak mengaku apakah dia menyewa atau menyewakan, jadi mereka yang seolah-olah jadi pemilik,” kata Kukuh kepada detikcom, Kamis (24\/10).

Ono Rastono, 36, salah satu bos topeng monyet di Jakarta Timur, membantah telah melakukan penyiksaan terhadap monyet-monyetnya dalam melatih agar dapat melakukan berbagai bentuk atraksi.

Ono mengklaim tidak pernah melatih sebab selama ini ia membeli monyet yang telah pintar melakukan berbagai atraksi. Monyet-monyet tersebut dibeli di daerah Kampung Rambutan, Jakarta Timur, dan Muara Angke, Jakarta Utara.

Harga satu ekor monyet juga berbeda-beda. Mulai dari Rp 1,5 juta hingga Rp 3 juta tergantung kepintaran si monyet saat atraksi. \\\"Yang paling mahal itu yang sudah bisa joget dan bisa ngambil duit saweran,\\\" ujarnya saat ditemui detikcom di rumahnya, Kamis (24\/10).






(brn/brn)
Ikuti berbagai berita penting dan menarik hari ini di program "Reportase Sore" TRANS TV Senin sampai Jumat, selama Ramadan pukul 14.15 - 14.45 WIB
Komentar ...
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed