DetikNews
Rabu 04 Sep 2013, 12:47 WIB

Mahalnya Rasa Aman Di Jakarta

Lagi Nolong Orang Kena Musibah Malah \'Dipalak\' Polisi

- detikNews
Jakarta - Peristiwa enam bulan lalu masih begitu membekas diingatan Hardianto, 23 tahun. Maksud hati ingin menolong sahabatnya yang mengalami kecelakaan tabrakan sesama sepeda motor, dia malah dimintai duit yang terbilang besar oleh oknum polisi.

Kamis siang itu Hardi tiba-tiba mendapat telepon dari teman akrabnya semasa di sekolah menengah atas. “Di, lo di kampus gak? Bisa tolongin gue gak. Gue lagi di rumah sakit abis tabrakan, nanti ambilin motor gue di kantor polisi deket kampus lo,” kata temannya itu dalam pembicaraan di telepon.

Mendengar kabar buruk, Hardi yang bekerja sebagai fotografer freelance<\/em> ini bergegas ke rumah sakit tempat temannya dirawat. Ia menjelaskan, saat itu orang tua temannya sedang di luar kota. Sementara, temannya itu adalah anak tunggal. “Gue kasihan kan dia temen akrab. Telepon saudara masih kerja semua. Terus dia telepon gue,” ujar Hardi yang ditemui detikcom Senin lalu.


\\\"\\\"


Hardi menceritakan temannya itu kecelakaan karena ditabrak oleh pengendara sepeda motor lain dari arah belakang. Meski demikian, sepeda motor milik temannya Ardi masih bisa dikendarai. Hanya stang kemudi serta knalpot yang goyang karena bautnya lepas.

Tapi, setelah tabrakan, datang dua petugas polisi patroli dengan mobil yang kemudian disusul dua petugas lain mengendarai sepeda motor. Dua sepeda motor yang mengalami tabrakan itu lantas dibawa petugas ke pos polisi terdekat dengan alasan untuk di data. Adapun korban kecelakaan dibawa ke rumah sakit terdekat.

“Polisi kasih tahu, motor yang tabrakan dibawa ke pos dekat perapatan jalan,” kata Hardi yang juga mahasiswa di salah satu universitas swasta.

Karena temannya ingin buru-buru memastikan kalau motornya aman, Hardi akhirnya sendirian meluncur naik angkutan ke pos polisi yang dimaksud. Begitu sampai, sudah ada dua petugas polisi yang sedang asyik membaca koran.

Setelah ngobrol dan mengisi data identitas untuk mengambil kendaraan, ia terkejut karena harus membayar Rp 250 ribu. Alasannya, sebagai pengurusan pendataan keamanan kendaraan pascakecelakaan. Meski sudah panjang lebar menjelaskan, tetap saja dua oknum polisi itu tidak mengerti.

Perasaan tidak enak terhadap temannya yang lagi terkena musibah akhirnya membuat Hardi mau tidak mau merogoh kocek dalam-dalam agar bisa \\\"menebus\\\" sepeda motor temannya. “Gue bingung, gak punya duit di dompet. Tapi, temen ngarep bantuan banget dan dia juga lagi susah. Terus gua ngambil duit dari ATM yang ada di dekat (pos polisi) situ,” ungkap warga Lenteng Agung ini.

Hingga sekarang, Hardi tak pernah bercerita kepada temannya itu kalau dia \\\"dikerjain\\\" polisi. Jadi temannya tidak tahu saat mengambil sepeda motornya dipungut biaya sebesar itu. Yang membuat Hardi tidak habis pikir adalah cara oknum polisi yang meminta duit di saat masyarakat lagi terkena musibah. “Caranya itu lho. Kok bisa sih kayak begitu mereka,” tutur Hardi.

Sementara itu, Kepala Divisi Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto menegaskan bila ada Pospol atau Polsek di lingkungan tempat tinggal masyarakat yang tidak mau melayani laporan dan cenderung mempersulit, pihaknya akan menegur dengan peringatan keras.

Hal tersebut sudah berkali-kali diinstruksikan oleh Kapolda Metro Jaya agar pelayanan menerima laporan masyarakat menjadi prioritas. “Sudah diimbau agar dijalankan,” ujar Rikwanto kepada detikcom, Senin lalu.



(brn/brn)
-
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed