DetikNews
Follow detikcom Like Follow
Rabu 08 May 2013, 02:17 WIB

Ultah Ke-68, Hendropriyono Luncurkan Buku Pengalaman \'Ganyang Malaysia\'

- detikNews
Jakarta - Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Jend (Purn) AM Hendropriyono meluncurkan buku \\\'Operasi Sandi Yudha Menumpas Gerakan Klandestin\\\' dalam rangka ulang tahunnya yang ke-68. Acara tesebut dihadiri sejumlah tokoh nasional.

Nampak Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Ketua Umum Golkar Aburizal Bakrie, Politisi Gerindra Prabowo Subianto, juga Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono. Tak ketinggalan, Gubernur DKI Joko Widodo nampak hadir sendirian mengenakan batik coklat.

Selain itu, Hendro juga mengundang mantan musuh dilematisnya dalam masa \\\'Ganyang Malaysia\\\' di Kalimantan Utara (Sekarang Malaysia). Dia adalah Wong Hon, bekas Komandan Batalyon Pasukan Rakyat Kalimantan Utara (PARAKU).

Wong Hon, yang langkahnya sudah tak tegap lagi, hadir bersama istrinya. Hendro menyatakan, baik dirinya dan Wong Hon sudah sama-sama tua dan menganggap pertempuran dahulu kala adalah bagian dari masa lalu.

\\\"Dan sekarang setelah politik berubah, akhirnya kami bertemu dan berkawan. Dia menyadari bahwa tentara adalah alat negara. Lalu sekarang, kita tanya perang dulu untuk apa sebetulnya? Dan kita sebagai manusia, berkawan. Dengan musuh saja kita bisa berkawan, apalagi sesama bangsa kita,\\\" tutur Hendro di Hotel Dharmawangsa, Jl Brawijaya Raya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (7\/4\/2013).

Seolah menyindir para politisi yang di antaranya hadir di acara ulang tahunnya, Hendro menganalogikan hubungannya dengan Wong Hon pada masa Dwikora dengan situasi panas politik jelang 2014. Persaingan tidak perlu saling benci dan penuh kebengisan, melainkan harus dilaksanakan dengan ksatria.

\\\"Saya harapkan dalam kompetisi jelang 2014, kita tidak usah saling bunuh, membunuh jegal menjegal, dan saling bermusuhan, karena akhirnya kita akan berkawan sebagai manusia biasa. Marilah kita berkompetisi secara ksatria, jangan menghalalkan segala cara, karena kita nanti bisa menyesal,\\\" tutur Doktor Fakultas Filsafat UGM ini menasihati.

Meski mengomentari suasana perpolitikan dewasa ini, namun Hendro menyatakan sudah tak berhasrat untuk terjun ke dunia politik. Dirinya juga mengaku tak memihak kepada salah satu kubu politik tertentu.

\\\"Saya dukung semua saja, saya tidak akan memihak. Yang paling piawai yang akan menang. Jangan sampai rakyat memilih kucing dalam karung, hanya sekadar populer tapi tak punya kemampuan,\\\" ujarnya.

Ketua DKPP Jimmly Ashiddiqqie dalam sambutannya berujar, Hendro belum terlalu tua untuk membangun bangsa ini. Justru orang seusia Hendro sangat diperlukan guna menjaga kebijakan bangsa. Jimmly membandingkan usia Hakim Konstitusi Perancis (Conseil Constitutionnel) yang berusia jauh lebih tua dari hakim MK di Indonesia. Hakim termuda di MK Perancis tersebut berusia 70 tahun.

\\\"Mudah-mudahan Pak Hendro panjang umur. Usia 68 belum tua, masih bisa menjadi anggota Conseil Constitutionnel termuda,\\\" ucap Jimmly disambut gelak tawa hadirin, termasuk Hendro.


(dnu/mok)
Komentar ...
News Feed