DetikNews
Rabu 03 Apr 2013, 13:25 WIB

Mendikbud Setuju Siswi Hamil Ikut UN, Ruangan Tak Perlu Dipisah

- detikNews
Mendikbud Setuju Siswi Hamil Ikut UN, Ruangan Tak Perlu Dipisah
Surabaya - Siswi hamil diperbolehkan mengikuti ujian nasional (UN) 2013. Siswi tersebut juga tidak diperlakuan berbeda dengan temannya. Dan dapat mengerjakan ujian nasional seruangan dengan teman-temannya.

Statmen Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) M Nuh, ini berbeda dengan statmen Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, yang meminta siswi hamil mengerjakan ujian di ruang khusus atau disendirikan di ruang kelas agar tidak mengganggu peserta ujian lainnya.

\\\"Ah nggak. Kalau hamil satu, terus diteke endi (Ditempatkan di ruang apa). Piro se nang Suroboyo seng hamil (Berapa siswi di Surabaya yang hamil),\\\" ujar M Nuh usai acara seminar dengan tema \\\'Penguatan kampanye \\\"Aku bangga aku tahu\\\", pada Rapat kerja kesehatan nasional (rakerkesnas) 2013 di The Empire Palace Surabaya, Rabu (3\/4\/2013).

Mantan Rektor ITS Surabaya ini juga menilai, meskipun siswi itu hamil dan mengerjakan UN satu ruangan, hal itu tidak akan mempengaruhi siswa-siswi lainnya dengan kondisi tubuh siswi yang \\\'berbadan dua\\\'.

\\\"Tetap saja jadi satu kan tidak apa-apa. Tidak sampai menganggu,\\\" tuturnya.

M Nuh mengatakan, menangani siswi hamil harus berhati-hati. Apalagi kasus hamilnya itu, suaminya jelas, istrinya jelas. Katanya, setiap anak mempunyai hak prinsip dasar untuk mendapatkan hak pendidikan. Sedangkan displin sekolah juga harus ditegakkan.

\\\"Dan bagaimana kalau suami istri sesama sekolah, sesama siswa, masak yang dikeluarkan akibat dari kehamilan, yang menghamili tidak. Se enake seng lanang (Kok enak bagi yang laki-laki). Oleh karena itu, harus dipilah-pilah menegakkan prinsip kedisiplinan,\\\" ujarnya.

Ia mencontohkan, ada daerah tertentu yang masih memiliki tradisi dan budaya, hamil atau nikah di usia muda masih ada.

\\\"Saya menganjurkan kepada dinas pendidika, tolong dipikirkan dengan tajam dan hati yang bagus. Bedakan pelanggaran yang sifatnya kriminal dengan hal yang sifatnya menikah apalagi resmi,\\\" tuturnya.

Dia menambahkan, kalau pelanggaran kriminalitas itu jelas menyimpang dari kaidah moral.

Sementara itu, Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi menambahkan, yang paling penting adalah upaya pencegahan (hamil di luar nikah atau di luar sekolah).

\\\"Pertama adalah, pendidikan moral, pendidikan agama, pendidikan kesehatan reproduksi, itu sudah diberikan. Kemudian kesempatan-kesempatan yang bisa menyebabkan mereka-merka melakukan hubungan seks, itu yang harus dicegah,\\\" ujar Mboi.

Jika pelaku yang menghamili sisiwi adalah guru, maka harus ada sanksi tegas. \\\"Kalau yang menghamili guru, bagi saya itu disebut kriminal. Oleh karena itu, seharusnya guru melindungi anak didiknya, bukan memperkosa atau menyalahgunakannya,\\\" katanya.

Mboi mengatakan, bagi korban maupun pelaku yang masih duduk di bangku sekolah, sebaiknya ruang kelasnya dipindah dan didampingi konseling.

\\\"Sekarang ini sudah menyangkut anak. Anak mahluk Tuhan yang tidak boleh dibuang begitu saja. Menikahkan mereka pada usia muda juga salah. Oleh karena itu, mereka baik laki dan perempuan, mendampatkan pendampingan yang tepat. Sehingga mereka bisa melanjutkan hidupnya dengan benar dan tidak lagi dipengaruhi nafsu seks,\\\" jelasnya.


(roi/fat)
Ikuti informasi penting, menarik dan dekat dengan kita sepanjang hari, di program "Reportase Sore" TRANS TV, Senin sampai Jumat mulai pukul 14.30 - 15.00 WIB
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed