DetikNews
Selasa 16 Oct 2012, 15:29 WIB

Kapolsek Kramat Jati: Pengeroyokan di Kampung Dukuh Dipicu Kesalahpahaman

- detikNews
Jakarta, - Setelah berhasil menangkap pelaku pengeroyokan Tri Sugiantoro (34) yang terlibat bentrokan di Kampung Dukuh, Jakarta Timur, kepolisian mengembangkan penyelidikan dengan mencari tahu motif pelaku. Diketahui pelaku dalam keadaan mabuk dan terjadi kesalahpahaman dengan korban yang berujung bentrok.

Kepolisian berhasil menangkap 2 pelaku yang diketahui berinisial RS (26) dan AB (16), pada Senin (15\/10) malam. Keduanya ditangkap di dua lokasi berbeda, yakni di kawasan Bekasi, Jawa Barat dan di kawasan Jakarta Timur.

\\\"Jadi berawal ketika teman-teman RS sedang minum-minum di daerah Jasa Marga. Pada saat itu RS bersama teman-temannya yang kehabisan uang, meminta uang kepada korban dan teman-temannya yang sedang melintas untuk membeli minum, karena tidak dapat dari korban, terjadi perkelahian. Akhirnya korban yang kabur diclurit di Jalan Dukuh 23 dan sementara AB ikut memukul korban dari belakang,\\\" ujar Kapolsek Kramat Jati, Kompol Imran Gultom saat ditemui di Mapolsek Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa (16\/10\/2012).

Imran menjelaskan, pelaku dalam keadaan mabuk akibat miras oplosan, pada saat menyerang korban. Dia menambahkan, hasil penyelidikan sementara menyimpulkan bahwa motif pelaku karena salah paham.

\\\"RS diduga mabuk miras oplosan, sedangkan pengakuan AB diketahui tidak mabuk, dia hanya sekedar ikut-ikutan. Jadi motif pelaku melakukan pengeroyokan karena salah paham,\\\" jelasnya.

Lebih lanjut, Imran menceritakan, pelaku dan korban tidak memiliki hubungan saudara, melainkan hanya sekedar saling kenal. Selain itu, lanjut Imran, jika dilihat dari latar belakangnya, RS pernah melakukan penganiayaan serupa terhadap orang lain sebelumnya.

\\\"Para pelaku dan korban saling mengenali dan sebenarnya mereka tidak ada perseteruan sama sekali. Sedangkan dilihat dari latar belakangnya, 8 tahun lalu RS pernah menganiaya orang yang mengakibatkan orang buta,\\\" jelas Imran.

Ditambahkan Imran, saat diperiksa polisi, kedua pelaku mengaku hanya mereka berdua pelakunya. Keduanya juga telah mengakui semua kesalahannya.

\\\"Dari hasil pemeriksaan ada dua pelakunya. Sekarang ini belum penambahan pelaku, tapi kalau dia berubah pikiran, mau memberitahu siapa saja saat pengeroyokan, kemungkinan bisa bertambah. Menurut pengakuan kedua pelaku mereka mengakui kesalahan tersebut,\\\" tutur Imran.

Atas perbuatannya ini, menurut Imran, kedua pelaku dapat dijerat pasal 170 KUHP ayat 2 tentang pengeroyokan hingga menyebabkan orang meninggal. \\\"Dengan ancaman hukuman 12 tahun penjara, dan tidak ada perbedaan ancaman hukuman untuk kedua tersangka, kecuali pelaku AB akan ditahan di tahanan anak Polres Jakarta Timur,\\\" tandasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Tri Sugiantoro tewas dikeroyok dalam bentrokan yang terjadi di kawasan Kampung Dukuh pada 23 September lalu. Pihak keluarga korban mendatangi Mapolsek Kramat Jati karena merasa tidak ada kejelasan kasus ini. Pihak keluarga yang diwakili oleh Tati berserta anak dan menantunya, mendesak polisi untuk segera menangkap pelaku pengeroyokan putranya.

Terhadap desakan keluarga korban tersebut, Kanit Reskrim Polsek Kramat Jati, AKP Bambang Cipto telah memberikan tanggapan. Pada 8 Oktober lalu, Bambang menegaskan, pihaknya tidak tinggal diam atas kasus bentrokan tersebut. Menurutnya nama-nama pelaku telah dikantongi, namun karena selalu berpindah tempat, pihaknya belum dapat menangkap pelaku.


(edo/nvc)
Array
Komentar ...
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed