DetikNews
Sabtu 23 Juli 2016, 11:09 WIB

Seorang Dalang Ciptakan Wayang dari Daun Pisang

Enggran Eko Budianto - detikNews
Seorang Dalang Ciptakan Wayang dari Daun Pisang Foto: Enggran Eko Budianto
Mojokerto - Menjadi dalang yang bergelut dengan wayang kulit sudah biasa. Namun, berbeda dengan dalang yang satu ini. Berkat kreativitasnya, Agus Sugianto (55) membuat wayang kulit dengan bahan daun pisang yang telah kering (klaras).

Puluhan karakter wayang kulit menghiasi dinding ruang kerja Agus di Dusun Gambiran, Desa Kwatu, Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto. Mulai dari Arjuna, Dewi Shinta, Bima, hingga gunungan sebagai simbol pembuka dan penutup lakon.

Sekilas tak ada yang aneh dengan wayang karya Dalang Agus ini. Namun, jika diamati lebih detil kita akan sadar kalau wayang kulit itu tak terbuat dari kulit hewan. Yups, seniman ini membuatnya dari klaras.

"Awalnya lihat klaras di kebun kok coraknya bagus, kemudian saya mencoba membuat wayang kulit," kata Agus, Sabtu (23/7/2016).

Ilmu menjadi seorang dalang didapatkan Agus dari hasil pengembaraannya selama 3 tahun berkecimpung dengan dunia seni pedalangan. Sekitar tiga tahun yang lalu, berbekal ide daun klaras, dia lantas melakukan uji coba.

Tentunya bahan klaras saja yang tipis dan mudah rusak tak bisa dibentuk menjadi wayang. Agus pun memadukannya dengan kertas karton bekas sebagai tubuh wayang. Sementara kerangka wayang sendiri dia buat dari bambu.

"Kalau baru aktif buat banyak dan dijual ya setahunan ini," ujarnya.

Meski berbahan baku barang bekas, wayang buatan Agus tak kalah dengan wayang berbahan kulit hewan. Saban hari, pria 55 tahun ini menjajakan kerajinannya hingga ke Jombang, Gresik dan Surabaya.

Tak hanya membuat wayang, seniman ini mampu mendalang. Dia menghafal betul lakon dan sifat semua tokoh wayang. Dengan bakatnya itu, Agus menerima permintaan pementasan.

Namun, tarif yang dia patok tak setinggi dalang pada umumnya. Dia dengan senang hati mendalang meski dibayar Rp 1 juta atau bahkan Rp 100 ribu. Hanya saja, musik pengiringnya hanya berupa siter, bukan gamelan layaknya pementasan wayang kulit.

"Tergantung yang nanggap, kalau punya uang Rp 100 ribu juga saya bisa main," pungkasnya.


(fat/fat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed