detikNews
Rabu 31 Mei 2017, 15:20 WIB

Padepokan Giri Harja, Pelestari Wayang Golek di Jelekong Bandung

Wisma Putra - detikNews
Padepokan Giri Harja, Pelestari Wayang Golek di Jelekong Bandung Wayang golek. Foto: Wisma Putra
Kabupaten Bandung - Melestarikan wayang golek menjadi tugas wajib yang dilakukan keluarga besar Padepokan Giri Harja. Padepokan ini dirintis mendiang Asep Sunandar Sunarya selaku maestro wayang golek.

Setiap anak Asep Sunandar Sunarya memiliki peran berbeda dalam melestarikan seni dan budaya tersebut. Jika Dadan Sunadar Sunarya menjadi dalang pertunjukan wayang golek, putra Asep Sunandar Sunarya lainnya yaitu Batara Sena memiliki tugas untuk membuat wayang golek.

"Kami punya tugas turun temurun untuk membuat Wayang Golek dan melestarikannya," kata Batara Sena kepada detikcom, belum lama ini.

"Ada yang menjadi dalang, melukis wajah dan tubuh wayang, membuat baju wayang, pengiring lagu atau bertugas membantu menggerakkan tubuh wayang saat pentas," ujar Batara menambahkan.
Padepokan Giri Harja, Pelestari Wayang Golek di Jelekong BandungPadepokan Giri Harja. Foto: Wisma Putra

Wayang golek Giri Harja dijadikan barometer wayang Jawa Barat bahkan dunia karena telah diakui PBB dan Unesco. Kini dalam melestarikannya sudah banyak variasi terutama penggunaan warna, aksesori atau suvenir yang membalut tubuh wayang.

Butuh waktu berbulan-bulan membuat satu sosok atau karakter wayang. Pembuatan wayang golek ini meliputi pengukiran, pewarnaan, pembuatan baju dan aksesori.

Padepokan Giri Harja berlokasi di Jalan Laswi Bandung atau tepatnya di Kampung Giri Harja, Desa Jelekong, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Padepokan tersebut didirikan 10 tahun lalu dan dijadikan pusat pertunjukan seni serta pengembangan wayang golek di Indonesia

"Padepokan terbuka untuk umum jika ada yang ingin belajar membuat wayang atau ingin mempelajari sejarah wayang bisa datang langsung," ucap Batara.
Padepokan Giri Harja, Pelestari Wayang Golek di Jelekong BandungPembuatan wayang golek. Foto: Wisma Putra

Di dalam Padepokan Giri Harja terdapat deretan wayang yang berjumlah 200 dan alat musik pertunjukan. Mayoritas wayang itu milik mendiang Asep Sunandar Sunarya yang diwariskan kepada anaknya.

Dekat dari padepokan ini terdapat sebuah saung bambu sederhana yang didirikan di atas sawah. Di saung tersebut terdapat tumpukan kayu albasia gelondongan sebagai bahan baku untuk membuat wayang.

Anak kedua sang maestro, Dadan Sunandar Sunarya mengatakan, regenerasi perajin wayang pertunjukan di Jawa Barat frekuensinya kurang. "Hanya itu-itu saja dan regenerasinya kurang. Di Giri Harja sendiri, perajin hanya ada lima orang," kata Dadan.

"Untuk perajin memang kurang, tapi untuk dalang berbanding terbalik, banyak bermunculan dalang-dalang muda dari anak sampai dewasa di Jabar," ujar Dadan.


Eksistensi Wayang Golek

Pentas wayang golek tidak seeksis seperti dulu. Sebelum Indonesia mengalami krisis moneter pada 90-an, Dadan Sunandar Sunarya mampu menggelar pertunjukan wayang hingga 20 panggung perbulan. Bahkan semasa kejayaan ayahnya, Asep Sunandar Sunarya, bisa tiga bulan tidak berhenti menggelar pertunjukan.

"Setelah moneter, menurun drastis bisa hanya 5-10 panggung ataupun tidak sama sekali dalam satu bulan. Itu diakibatkan perekonomian masyarakat tidak stabil, karena untuk menggelar pertunjukan wayang tidak membutuhkan biaya yang tidak sedikit," ungkap Dadan.

Melihat kondisi tersebut, Dadan berharap ada peran serta pemerintah untuk mendidik masyarakat agar mencintai Kesenian Wayang Golek. Perekonomian, menjadi kendala karena seni tradisi disuatu negara dapat berkembang jika ekonomi kerakyatannya maju.

"Jadi pemerintah juga harus berpikir bagaimana supaya perekonomian ini stabil, karena untuk membuat wayang dan menggelar pertunjukan wayang dibutuhkan finansial," ujar Dadan.
Padepokan Giri Harja, Pelestari Wayang Golek di Jelekong BandungPerajin wayang golek. Foto: Wisma Putra

Anak sang maestro lainnya, Batara Sena, berharap kepada pemerintah dapat menjembatani minat dan kecintaaan anak muda terharap wayang golek. Selain itu, Batara mengajak masyarakat turut serta melestarikan dengan menggelar pagelaran wayang golek.

Batara mengungkapkan, selain di Jelekong, perajin wayang golek banyak tersebar di Kabupaten Bandung antara lain Kecamatan Ciparay, Majalaya dan Banjaran. Lantaran lambatnya regenerasi, bahkan beberapa galeri terpaksa tutup.

"Mereka terlalu sibuk dengan dunianya dan lebih memilih melestarikan budaya orang lain dibanding budaya sendiri. Kalaupun ada perajin wayang golek, biasanya mereka buat wayang untuk suvenir atau hiasan, bukan untuk pertunjukan," tutur Batara.


Melestarikan Wayang Golek

Pada 2010 lalu, Batara Sena diundang ke Sri Lanka untuk mengenalkan wayang golek dalam sebuah pementasan. "Di sana saya tinggal selama dua bulan, pentas sana-sini bahkan saya masuk Koran atau televisi tiap hari," ujarnya.

Semenjak kedatangannya ke Sri Lanka, secara bertahap negara lain Batara kunjungi. Ia menilai, ternyata orang luar negeri sangat menghargai seni budaya Indonesia. Bahkan perwakilan negara luar sengaja datang ke Jelekong untuk belajar mengenal lebih dekat wayang golek.
Padepokan Giri Harja, Pelestari Wayang Golek di Jelekong BandungFoto: Wisma Putra

Sebenarnya Batara cemas. Dia berpendapat jika pemerintah kurang serius menjaga aset seni budaya wayang golek, tak menutup kemungkinan orang luar negeri yang meneliti wayang di Jelekong, setelah mereka berhasil, justru kelak berbalik yaitu warga Indonesia belajar wayang golek ke Sri Lanka atau Amerika. Di Sri Lanka, wayang golek dijadikan sarana sosialisasi untuk alat kontrasepsi pada Hari AIDS.

"Bayangkan saja, selain di museum-museum masih banyak wayang golek dan peninggalan sejarahnya tersimpan di tempat kami, jika tempat kami di bom hilang sudah aset yang dimiliki negara. Kami berharap dukungan dari banyak pihak," tutur Batara.

Senada diungkapkan Dadan Sunandar Sunarya. Ia berharap ada peran serta pemerintah untuk mendidik masyarakat agar mencintai kesenian wayang golek.

"Jadi pemerintah juga harus berpikir bagaimana supaya perekonomian ini stabil. Ya karena untuk membuat wayang dan menggelar pertunjukan wayang dibutuhkan finansial," ujar Dadan.

Padepokan Giri Harja sebagai pusat pengembangan seni budaya wayang golek ini dijadikan tempat untuk studi banding kalangan seniman, mahasiswa, calon profesor dari dalam atau luar negeri.

"Bulan Juli mendatang akan ada siswa dari Prancis yang belajar tentang wayang. Bukan wayang saja di sini, padepokan ini dijadikan sebagai central art, ada wayang, lukisan, jaipongan, pencak silat, seluruhnya bisa dipagelarkan," tutur Dadan.
Padepokan Giri Harja, Pelestari Wayang Golek di Jelekong BandungFoto: Wisma Putra

(bbn/bbn)


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com