Cari Penawaran Terbaik di Sini



Berita Lain

Indeks Berita

Selasa, 23/12/2008 08:00 WIB
Kisah Cakue dan Odading dari Gang Lapang
Ema Nur Arifah - detikBandung


Bandung - Cakue... odading...
Cakue... odading...


Seruan yang keluar dari mulut penjual cakue dan odading ini pernah atau mungkin masih menjadi santapan setiap pagi. Mereka, para pedagang itu biasa memanggul keranjang bambu berisi cakue dan odading di atas bahunya. Berjalan dari kelokan ke kelokan rumah-rumah penduduk mencari pembeli.

Mungkin tidak banyak yang tahu kalau produsen yang mensupply makanan khas Cina pada para pedagang ini berada  di satu kawasan yaitu Gang Lapang, Kelurahan Babakan Ciparay, Kecamatan Bojong Loa Kaler. Di tengah sepinya gang ternyata di beberapa rumah warga aktif dengan berbagai kegiatan home industry. Produsen  cakue dan odading adalah yang paling banyak.

Ridwan Alis (63), salah seorang pedagang senior mengatakan di kawasan ini ada sekitar 3 RW yang beberapa orang penduduknya berprofesi sebagai produsen cakue dan odading yaitu RW 04, RW 05 dan RW 06. "Kurang lebih sekitar 20-an warga yang membuat odading," papar  Ridwan.

Sudah sejak lama warga di kawasan ini berjualan cakue dan odading yaitu sekitar era 60-an. Menurut RIdwan, warga awalnya mengikuti jejak penjual cakue dan odading yang berjualan di Pasar Baru. Hingga akhirnya warga pun satu per satu mulai berjualan cakue dan odading.

Melihat rentang waktu sejak dimulainya usaha cakue dan odading, usaha ini bisa dibilang usaha warisan atau turun temurun. Namun bagi Ridwan sendiri dirinya belum memiliki regenerasi. Ridwan yang awalnya ikut berjualan bersama kakaknya tahun 60-an ini mulai menjalankan usaha sendiri tahun 70-an.

Menurut Ridwan para perintis usaha cakue dan odading di kawasan ini banyak yang sudah meninggal dan tidak memiliki regenerasi sehingga jumlah pedagang dibandingkan dulu lebih sedikit.

Namun menurut Jaja, sistem pemasaran cakue dan odading saat ini tak lagi seperti dulu. Jika dulu warga memilih menjual melalui pedagang cakue dan odading keliling, kini warga lebih memusatkan pemasaran ke pasar-pasar tradisional atau jongko-jongko.

"Dulu saya juga memasarkan dengan cara dijual secara berkeliling, tapi sekarang tidak lagi," ujarnya. Pria yang sudah memiliki 3 cucu ini menilai, saat ini masanya sudah berbeda. Selera konsumen terhadap cakue dan odading pun tak seramai dulu.

Warga pun memilih mendistribusikannya ke pasar-pasar tradisional seperti Pasar Antri di Cimahi, Pasar Induk Caringin, Pasar Anyar dan pasar-pasar tradisional lainnya. Walaupun masih ada warga yang memilih menjual dengan berkeliling ke rumah-rumah penduduk.

Seperti Canah (54) misalnya. Sampai saat ini Canah masih membuat cakue dan odading untuk dipasarkan keliling rumah. Namun Canah tidak membuat cakue dan odading dalam jumlah banyak tapi hanya cukup untuk dijajakan suami dan menantunya.

"Dari dulu suami membuat cakue dan odading untuk dijual sendiri berkeliling. Jadi jumlah produksi juga tidak terlalu besar," aku Canah. Setiap harinya Canah mengaku hanya memproduksi cakue dan odading dengan bahan baku 2-3 kilogram tepung terigu.

Maka jangan heran jika kini, pedagang cakue atau odading keliling sudah begitu jarang menyambangi rumah-rumah penduduk. Para produsennya lebih memilih memasarkan ke pasar tradisional. Suara khas yang terkadang melengking dari penjual cakue dan odading bisa jadi satu waktu tinggal memori dari perjalanan para pedagang cakue dan odading di Gang Lapang.

Selain cakue dan odading, diantara penduduk ada yang memproduski onde atau aneka kue cheesstik yang nantinya juga didistribusikan ke pasar-pasar tradisional.


Ayo ngobrol seputar Kota Bandung di Forum Bandung.(ema/ahy)


Share

Foto Lain

Fotolain

Baca juga :