detikcom
Selasa, 30/04/2013 12:53 WIB

Seratus Nasabah Geruduk Kantor Investasi Emas di Bandung yang Mendadak Kolaps

Baban Gandapurnama - detikNews
Bandung - Seratusan nasabah PT Lautan Emas Mulia (LEM) cemas lantaran perusahaan investasi emas tersebut mendadak kolaps. Para nasabah dari berbagai kalangan itu pun menggeruduk kantor PT LEM di Jalan Pasirkaliki No 18, Kota Bandung, Selasa (30/4/2013).

"Anah PT LEM ini. Pada 28 Februari lalu pengelolanya bilang sehat. Tapi 11 Maret kemarin dikatakan kolaps. Wajar kalau nasabah gusar dengan kabar tersebut," jelas pengacara nasabah, Jefri M Hutagalung, kepada wartawan di kantor PT LEM.

Nasabah makin geram karena kantor tersebut tertutup rapat. Tidak ada aktivitas sama sekali. Pintu rolling door kantor terkunci. Hanya ada satu kertas berisi pengumuman tertempel di pintu yang bertulis, 'Pengumuman. Kami memohon maaf bahwa sehubungan dengan habisnya masa kontrak ruko PT Lautan Emas Mulia Cabang Bandung, maka kami mememberitahukan seluruh operasional PT LEM Bandung dipindah alihkan pusat berlamat di PT Lautan Emas Mulia, Menara Global Lantai 12 Suiete B, Jalan Jenderal Gatot Subroto Kav 27, Jakarta 12950. Terimakasih PT Lautan Emas Mulia'.

"Perusahaan tidak menjelaskan alasan kolaps. Karena itu nasabah mempertanyakan uang yang dinvestasikan di LEM. Kemana larinya uang? Bayangkan, ada sekitar 400 nasabah asal Kota Bandung yang investasi di LEM ini," ujar Jefri.

PT LEM cabang Bandung sudah tiga tahun beroperasi. Tawaran mereka kepada nasabah antara lain berupa investasi emas berupa fisik dan non fisik. Perusahaan mengiming-imingi keuntungan 2 hingga 4,5 persen per bulan kepada nasabah yang berinvestasi emas. Untuk investasi emas fisik, nasabah harus membeli minimal 100 gram. Investasi emas non fisik, nasabah membeli minimal 25 gram.

Emas dijual PT LEM ini lebih mahal atau selisihnya ditinggikan sekitar 30 persen dari harga pasaran. Misalnya satu gram di pasaran seharga Rp 500 ribu, nasabah membeli dari PT Lem senilai Rp 700 ribu. Nasabah tak masalah lantaran emas dinvestasikan dan dijanjikan mengantongi keuntungan.

"Pada akhir 2011 lalu, saya investasi emas fisik senilai 70 juta rupiah untuk mendapat 100 gram emas. Tiap bulan memang mendapat keuntungan dua persen. Lalu menginjak enam bulan, sesuai perjanjian, PT LEM membeli emas itu sesuai harga waktu membeli atau 70 juta rupiah. Memang benar uangnya cair," kata salah satu nasabah, Wawan (32).

Wawan tak merasa curiga karena PT LEM sudah menepati janji. Ia makin tergiur dan kembali investasi emas fisik sebanyak 1 kilogram emas atau seharga Rp 700 juta. "Tapi kok perusahannya bilang kolaps. Saya mencoba menagih, tapi mereka bilang agar menunggu. Berulang kali tetap begitu. Kerugian dialami saya yakni 300 juta rupiah. Itu angka selisih 30 persen dari 700 juta yang diinvestasikasikan," kata Wawan.

Seratusan nasabah bernasib serupa dengan Wawan itu tak bisa berbuat banyak. Raut kecewa tergambar di wajah mereka karena tidak bisa bertemu pengelola atau manajeman PT LEM. Aksi nasabah mendatangi kantor investasi emas ini dijaga sejumlah polisi berpakaian preman. Sebagian nasabah membubarkan diri sekitar pukul 12.00 WIB. Sebagian lagi menunggu kepastian.



Akhiri hari anda dengan menyimak beragam informasi penting dan menarik sepanjang hari ini, di "Reportase Malam" pukul 01.30 WIB, hanya di Trans TV

(bbn/ern)



Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
ProKontra Index »

Harga BBM Harus Naik

Terbatasanya kuota BBM bersubsidi berimbas pada langkanya BBM di sejumlah SPBU plus antrean panjang kendaraan. Presiden terpilih Jokowi mengusulkan pada Presiden SBY agar harga BBM dinaikkan. Jokowi mengatakan subsidi BBM itu harus dialihkan pada usaha produktif, ditampung di desa, UMKM, nelayan. Menurutnya anggaran subsidi jangan sampai untuk hal-hal konsumtif seperti mobil-mobil pribadi. Bila Anda setuju dengan Jokowi bahwa harga BBM harus naik, pilih Pro!
Pro
53%
Kontra
47%