Selasa, 23/10/2012 07:25 WIB

Sepuluh Abad, Angklung Buhun Tetap 'Hidup' di Kampung Legok Kuda

Avitia Nurmatari - detikNews
Bandung - Di kawasan Soreang tepatnya di Kampung Legok Kuda, Desa Sukanagara RW 1, RT 1 dan RT 3, sekitar 100 orang penghuni yang masih satu keturunan hidup rukun. Selain menjalankan amanat kehidupan dari sang Maha Kuasa, mereka juga menjaga amanat leluhur untuk menjaga salah satu warisan kebudayaan sunda yakni Angklung Buhun.

Sepuluh Abad lalu, Angklung Buhun dibuat di Kampung Pasir Calung, Soreang, Kabupaten Bandung, oleh seseorang yang berasal dari Lampung.

Menurut Pemimpin Grup Angklung Buhun generasi ke-8 Ndut Tarmana (46), Angklung Buhun bukan sembarang angklung. Dalam prosesnya saja, sang pembuat angklung mencari bambu dari tujuh gunung dan tujuh pasir.

Yakni Pasir Calung, Pasir Buntung, Pasir Layung, Pasir Panglayungan, Pasir Pangdaweungan, Pasir Pangcalikan dan Pasir Panglamunan.

"Saya tidak tahu semua lokasi ketujuh pasir tersebut. Yang saya tahu hanya Pasir Calung dan Pasir Buntung yang dekat daerah Soreang. Kalau jenis bambunya, ini menggunakan bambu ater," tuturnya kepada detikbandung.

Dalam satu set Angklung Buhun, ada 8 macam angklung. Masing masing bagian, dibuat dari bambu yang berbeda. "Satu angklung kan ada dua bagian, yang besar dan yang kecil. Itu dibuatnya dari bambu yang berbeda," terang Ndut.

Kini di usia ke-10 abad. Angklung Buhun masih kokoh dan tetap berbunyi nyaring di Desa Sukanagara, Soreang. Meski beberapa bagian angklung pernah ada yang rusak karena termakan usia.

"Angklung ini memang harus benar-benar dirawat. Karena hanya satu-satunya, tidak bisa kita membuat yang sama seperti angklung-angklung lainnya. Pernah ada salah satu kaki angklung yang patah, saya sambung tanpa merubah bentuk asli angklung," beber Ndut.


Akhiri hari anda dengan menyimak beragam informasi penting dan menarik sepanjang hari ini, di "Reportase Malam" pukul 01.30 WIB, hanya di Trans TV

(avi/ern)



Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
ProKontra Index »

Pemprov DKI Larang Aplikasi Taksi Uber

Baru diluncurkan sepekan, aplikasi penghubung taksi Uber langsung mendapat respons negatif dari Pemprov DKI. Alasan pelarangannya, mulai dari tak ada izin, tak ada kantor, tak mengikuti tarif resmi, berpelat hitam sehingga dikhawatirkan merugikan konsumen. Bila Anda setuju dengan Pemprov DKI yang melarang aplikasi taksi Uber, pilih Pro! Bila tidak setuju pelarangan taksi Uber, pilih Kontra!
Pro
68%
Kontra
32%