Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
-
Take the road less travelled on this trip through Guatemala, Honduras, Nicaragua and Costa Rica, Save 15%
Rp 118,178.000 -
Rp 2,834.000
Berita Lain
-
Minggu, 19/05/2013 08:33 WIB
Hari Ini, Warga KBB Pilih Bupati -
Sabtu, 18/05/2013 18:21 WIB
Jepret! Foto Aher-Deddy Mizwar Segera Disebar ke Khalayak -
Sabtu, 18/05/2013 15:38 WIB
106 PNS Pelanggar Lalu Lintas Terjaring Operasi Simpatik Lodaya -
Sabtu, 18/05/2013 13:26 WIB
Istri Minta Dada Rosada Jangan Mangkir Diperiksa KPK -
Sabtu, 18/05/2013 12:09 WIB
Usai Rumah Digeledah KPK, Dada Absen Buka Bandung Fashion -
Jumat, 17/05/2013 17:57 WIB
Kecelakaan Kerja, 2 Pekerja Hotel Pullman di Dago Patah Tulang
Indeks Berita
Forum Bandung
Thread Pilihan

Senin, 06/05/2013 13:32 WIB
Ini Cara Asyik Belajar Sejarah Kota Bandung
Posted : aidiralazuardi
Rabu, 10/10/2012 13:15 WIB
Dampak Cyber Crime di Indonesia Belum Sampai Destruktif
Tya Eka Yulianti - detikBandung
Bandung -
Potensi ancaman atau gangguan kejahatan di dunia maya (Cyber Crime) saat ini makin meningkat sehingga dibutuhkan keamanan informasi (cyber security). Namun cyber crime yang ada dinilai belum sampai pada tahap destruktif yang menganggu.
Hal itu diungkapkan Dirjen Aplikasi dan Telematika Kemeninfo Ashwin Sasongko dalam acara Indonesia Information Security Sistem 2012 'Cybersecurity Polici & Regulation-Confidence Building Measures in Cyberspace' di Hotel Hilton, Jalan HOS Cokroaminoto, Rabu (10/10/2012).
"Untuk mendeteksi serangan-serangan yang ada, kami terhubung dengan jaringan ISP (Internet Service Provider) yang cukup besar di Indonesia. Jumlahnya serangannya itu cukup besar," ujar Ashwin tanpa menyebut jumlahnya.
Bahkan Ashwin mengaku bahwa website milik Kemenkominfo sempat menjadi sasaran 'dedemit' dunia maya. "Kominfo pernah kena deface (tampilan web berubah wajah-red). Memalukan, tapi ya itu memang pernah terjadi," katanya.
Namun begitu, dari banyaknya serangan yang ada, menurut Ashwin belum sampai ada sampai yang menghantam hingga tahap destruktif. "Syukur, sampai saat ini tidak ada serangan yang sampai pada tahap destruktif. Misalnya menghantam sebuah bank hingga lumpuh dan sampai tak bisa beroperasi (tutup-red)," jelasnya.
Lebih lanjut Ashwin mengungkapkan digelarnya seminar ini sebagai komitmen dan concern pemerintah mewaspadai potensi ancaman keamanan informasi.
"Kami mengumpulkan komunitas-komunitas informasi teknologi untuk share informasi perkembangan soal security informasi saat ini. Dengan tujuan menggalang komitmen secara konkret bagi penguatan upaya menghadapi beragam cyber crime," ujarnya.
Ia menyatakan, perkembangan penggunaan internet saat ini meningkat pesat yang diantaranya ditandai dengan berbagai pembangunan IT. "Belum lagi program seperti e-banking, e-ktp dan lain-lain," katanya.
Namun pertumbuhan itu menurutnya harus disertai dengan adanya keamanan sehingga para pengguna internet tak khawatir. "Dari segi security, kalau enggak aman, maka pengguna internet akan kabur. Contohnya saja Bandung, kalau kia tahu bagaimana keamanannya kan tidak ada masalah ketika kita akan mengunjunginya. Kita mengantisipasi supaya yang dikhawatirkan jangan sampai terjadi," tutur Ashwin.
Sejumlah gangguan keamanan informasi misalnya spoofing, spamming, sniffer, crackers, hacker, cyber terorist, virus dan sebagainya.
Dalam acara ini, hadir memberikan keynote speech yaitu oleh Dr. Basuki Yusuf Iskandar selaku Sekjen Kementerian Kominfo, Pos M Hutabarat selaku Dirjen Pertahanan Potensial Kementerian Pertahanan dan Subiyanta Mandala Badan Pembinaan Hukum Nasional Kementerian Hukum dan HAM.
Acara ini diikuti oleh ratusan peserta yang terdiri dari peneliti, praktisi dan ahli di bidang IT, perusahaan IT, sektor publik dan masyarakat umum. Menghadirkan tema seminar Global Cyber Securitty Issue dengan pembicara Prof. Dr. Marco Gercke (ITU Cybersecurity Consultant), Dr.Ian Brown (Oxford University) dan Mr Kim Andreasson dari UN on Government Security.
(tya/ern)
Dampak Cyber Crime di Indonesia Belum Sampai Destruktif
Tya Eka Yulianti - detikBandung
Hal itu diungkapkan Dirjen Aplikasi dan Telematika Kemeninfo Ashwin Sasongko dalam acara Indonesia Information Security Sistem 2012 'Cybersecurity Polici & Regulation-Confidence Building Measures in Cyberspace' di Hotel Hilton, Jalan HOS Cokroaminoto, Rabu (10/10/2012).
"Untuk mendeteksi serangan-serangan yang ada, kami terhubung dengan jaringan ISP (Internet Service Provider) yang cukup besar di Indonesia. Jumlahnya serangannya itu cukup besar," ujar Ashwin tanpa menyebut jumlahnya.
Bahkan Ashwin mengaku bahwa website milik Kemenkominfo sempat menjadi sasaran 'dedemit' dunia maya. "Kominfo pernah kena deface (tampilan web berubah wajah-red). Memalukan, tapi ya itu memang pernah terjadi," katanya.
Namun begitu, dari banyaknya serangan yang ada, menurut Ashwin belum sampai ada sampai yang menghantam hingga tahap destruktif. "Syukur, sampai saat ini tidak ada serangan yang sampai pada tahap destruktif. Misalnya menghantam sebuah bank hingga lumpuh dan sampai tak bisa beroperasi (tutup-red)," jelasnya.
Lebih lanjut Ashwin mengungkapkan digelarnya seminar ini sebagai komitmen dan concern pemerintah mewaspadai potensi ancaman keamanan informasi.
"Kami mengumpulkan komunitas-komunitas informasi teknologi untuk share informasi perkembangan soal security informasi saat ini. Dengan tujuan menggalang komitmen secara konkret bagi penguatan upaya menghadapi beragam cyber crime," ujarnya.
Ia menyatakan, perkembangan penggunaan internet saat ini meningkat pesat yang diantaranya ditandai dengan berbagai pembangunan IT. "Belum lagi program seperti e-banking, e-ktp dan lain-lain," katanya.
Namun pertumbuhan itu menurutnya harus disertai dengan adanya keamanan sehingga para pengguna internet tak khawatir. "Dari segi security, kalau enggak aman, maka pengguna internet akan kabur. Contohnya saja Bandung, kalau kia tahu bagaimana keamanannya kan tidak ada masalah ketika kita akan mengunjunginya. Kita mengantisipasi supaya yang dikhawatirkan jangan sampai terjadi," tutur Ashwin.
Sejumlah gangguan keamanan informasi misalnya spoofing, spamming, sniffer, crackers, hacker, cyber terorist, virus dan sebagainya.
Dalam acara ini, hadir memberikan keynote speech yaitu oleh Dr. Basuki Yusuf Iskandar selaku Sekjen Kementerian Kominfo, Pos M Hutabarat selaku Dirjen Pertahanan Potensial Kementerian Pertahanan dan Subiyanta Mandala Badan Pembinaan Hukum Nasional Kementerian Hukum dan HAM.
Acara ini diikuti oleh ratusan peserta yang terdiri dari peneliti, praktisi dan ahli di bidang IT, perusahaan IT, sektor publik dan masyarakat umum. Menghadirkan tema seminar Global Cyber Securitty Issue dengan pembicara Prof. Dr. Marco Gercke (ITU Cybersecurity Consultant), Dr.Ian Brown (Oxford University) dan Mr Kim Andreasson dari UN on Government Security.
(tya/ern)

Sending your message