Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
-
Rp 7,631.000
-
Rp 15,598.000
Berita Lain
-
Rabu, 19/06/2013 19:46 WIB
Pilwalkot Bandung
Pasangan Buzal Laporkan Kinerja KPU ke Panwaslu -
Rabu, 19/06/2013 19:27 WIB
Pilwalkot Bandung
Terkait Surat Suara Cacat, Ini Antisipasi yang Dilakukan Polisi -
Rabu, 19/06/2013 18:52 WIB
Pilwalkot Bandung
Ini Tanggapan Sejumlah Kandidat Soal Surat Suara Cacat -
Rabu, 19/06/2013 18:11 WIB
Biofarma Usulkan Transfer Teknologi dengan Negara Anggota OKI -
Rabu, 19/06/2013 15:59 WIB
Wali Kota Bogor Digugat ke PTUN Bandung Terkait Izin Pembangunan Hotel -
Rabu, 19/06/2013 15:58 WIB
Polisi Klaim Bandung Kondusif Selama Kampanye Pilwalkot
Indeks Berita
Forum Bandung
Thread Pilihan

Rabu, 29/05/2013 18:17 WIB
Pesawat Terbang dan Helikopter Made in Bandung
Posted : siman_dolay
Senin, 02/07/2012 13:47 WIB
Duh, Anak Jalanan di Bandung Capai 4 Ribu Lebih
Tya Eka Yulianti - detikBandung
Bandung -
Anak jalanan di Jawa Barat saat ini jumlahnya sekitar 7 ribuan. Dari angka tersebut, 4 ribu diantaranya berada di Kota Bandung. Mereka diantaranya mencari uang dengan cara mengamen, mengemis atau memulung.
"Jumlah anak jalanan di Jawa Barat mencapai 7 ribu lebih. Yang terbanyak berada di Kota Bandung yaitu sebanyak 4 ribu lebih," ungkap Sekretaris Kelompok Perempuan Mandiri (KPM) Dewi Sartika, Daus Sapu Jagat saat ditemui disela-sela Turnamen Futsal Anak Jalanan di Kampus Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung, Jalan Ir Djuanda, Senin (2/7/2012). KPM Dewi Sartika merupakan LSM yang bergerak pada masalah miskin kota.
Dari 4 ribu lebih anak jalanan di Bandung, 60 persen diantaranya merupakan kaum urban yang bukan orang asli Bandung. Dari anak jalanan yang ada tersebut, 612 diantaranya disebut Daus telah dibina dan tercatat di LPM Dewi Sartika.
"Mereka biasanya menjadi pengamen, pengemis dan pemulung," katanya.
Dalam masa pendekatan hingga pembinaan, para anak jalanan ini diarahkan untuk tidak menggunakan obat-obatan terlarang dan melakukan free sex. Karena dunia anak jalanan menurut Daus sangat dekat dengan penggunaan narkotika dan perilaku free sex.
"Kami juga mendirikan sekolah khusus bagi anak jalanan. Karena mereka tak bisa disekolahkan di sekolah formal, karena image anak jalanan yang kumuh dan gembel sudah melekat," tutur Daus.
Selain melakukan pembinaan pada anak-anak jalanan, KPM Dewi Sartika juga memberikan konseling dan pembinaan pada ibu-ibu mereka. "Tujuan jangka panjang kami yaitu agar mereka bisa mandiri dan tak hidup di jalanan. Namun untuk bisa sampai itu, butuh waktu. Karena mereka sudah terbiasa, serta telah menjadi pekerjaan yang turun-temurun," tuturnya.
(tya/tya)
Duh, Anak Jalanan di Bandung Capai 4 Ribu Lebih
Tya Eka Yulianti - detikBandung
"Jumlah anak jalanan di Jawa Barat mencapai 7 ribu lebih. Yang terbanyak berada di Kota Bandung yaitu sebanyak 4 ribu lebih," ungkap Sekretaris Kelompok Perempuan Mandiri (KPM) Dewi Sartika, Daus Sapu Jagat saat ditemui disela-sela Turnamen Futsal Anak Jalanan di Kampus Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung, Jalan Ir Djuanda, Senin (2/7/2012). KPM Dewi Sartika merupakan LSM yang bergerak pada masalah miskin kota.
Dari 4 ribu lebih anak jalanan di Bandung, 60 persen diantaranya merupakan kaum urban yang bukan orang asli Bandung. Dari anak jalanan yang ada tersebut, 612 diantaranya disebut Daus telah dibina dan tercatat di LPM Dewi Sartika.
"Mereka biasanya menjadi pengamen, pengemis dan pemulung," katanya.
Dalam masa pendekatan hingga pembinaan, para anak jalanan ini diarahkan untuk tidak menggunakan obat-obatan terlarang dan melakukan free sex. Karena dunia anak jalanan menurut Daus sangat dekat dengan penggunaan narkotika dan perilaku free sex.
"Kami juga mendirikan sekolah khusus bagi anak jalanan. Karena mereka tak bisa disekolahkan di sekolah formal, karena image anak jalanan yang kumuh dan gembel sudah melekat," tutur Daus.
Selain melakukan pembinaan pada anak-anak jalanan, KPM Dewi Sartika juga memberikan konseling dan pembinaan pada ibu-ibu mereka. "Tujuan jangka panjang kami yaitu agar mereka bisa mandiri dan tak hidup di jalanan. Namun untuk bisa sampai itu, butuh waktu. Karena mereka sudah terbiasa, serta telah menjadi pekerjaan yang turun-temurun," tuturnya.
(tya/tya)


Sending your message
