Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
-
Take the road less travelled on this trip through Guatemala, Honduras, Nicaragua and Costa Rica, Save 15%
Rp 11,742.000 -
Rp 2,844.000
Berita Lain
-
Rabu, 22/05/2013 17:53 WIB
PKS Dirundung Masalah, Ridwan Kamil Tetap Optimistis Hadapi Pilwalkot 2013 -
Rabu, 22/05/2013 16:59 WIB
Kosmetik Ilegal Buatan Sumedang Beredar di Kalimantan dan Sumatera -
Rabu, 22/05/2013 16:30 WIB
Erwan Setiawan Janjikan Bantuan Permodalan Industri Rumahan -
Rabu, 22/05/2013 15:58 WIB
Pasangan RIDO Luncurkan Kartu Bandung Juara dan I Love Bandung -
Rabu, 22/05/2013 15:37 WIB
BBPOM Bandung Gerebek Rumah Produksi Kosmetik Ilegal di Sumedang -
Rabu, 22/05/2013 15:14 WIB
LBH dan Walhi Buka Posko Gugatan untuk Pemkot
Indeks Berita
Forum Bandung
Kamis, 21/06/2012 14:21 WIB
Wapres Berbagi Kisah Masa Kecilnya Sekolah di SD Muhammadiyah
Oris Riswan Budiana - detikBandung
Bandung -
Wapres Boediono secara resmi membuka Tanwir Muhammadiyah di Gedung Merdeka, Jalan Asia-Afrika, Kota Bandung, Rabu (21/6/2012). Dalam sambutannya, Boediono lebih banyak bercerita soal masa kecilnya yang sekolah di SD Muhammadiyah.
"Izinkan saya bercerita sedikit mengenai pengalaman saya sebagai murid SD Muhammadiyah di kota kecil, Kota Blitar, di awal tahun 1950-an," kata Boediono.
Saat itu, menurutnya jumlah SD negeri di kotanya sangat sedikit. Padahal jumlah anak yang ingin sekolah sangat banyak. "Oleh sebab itu, keberadaan SD Muhammadiyah sangat membantu anak-anak yang tidak bisa tertampung di SD-SD negeri. Saya termasuk anak-anak ini," ungkapnya.
Meski begitu, diakuinya fasilitas SD Muhammadiyah sangat minim. Para siswa juga tidak diwajibkan berseragam serta memakai sepatu. Namun uang sekolah pada saat itu terbilang murah dan terjangkau bagi para orangtua dengan kemampuan ekonomi seadanya.
"Dengan kondisi yang minim itu ada satu hal yang menonjol, yaitu guru-gurunya," kata Boediono. Ia mengatakan, kualitas para pendidik di SD Muhammadiyah sangat kompeten, termasuk jika dibandingkan dengan kondisi saat ini.
"Mereka mempunyai dedikasi sangat tinggi. Beliau-beliau itu, dengan segala keterbatasan yang ada berusaha keras untuk mengajar kami sebaik-baiknya. Saya bisa mengatakan bahwa mereka mengajar kami dengan hati," pujinya.
Sementara pada hari-hari tertentu, para siswa SD Muhamadiyah diwajibkan mengikuti kegiatan kepanduan. Di sana Boediono kecil belajar banyak hal mulai dari team work, keterampilan tali-temali hingga lagu perjuangan.
"Sampai sekarang pengalaman sekolah SD saya itu masih terus membekas di ingatan saya," tutur Boediono.
Berkaca dari pengalaman itu, ada banyak pelajaran yang bisa dipetik. Pelajaran itu di antaranya minimnya fasilitas bukan alasan untuk mendapatkan pembelajaran yang baik, dedikasi guru adalah segalanya, serta murahnya biaya pendidikan adalah sebuah keharusan.
"Pendidikan dasar yang baik adalah landasan bagi pendidikan selanjutnya dan kunci bagi upaya mencerdaskan bangsa. Perbaikan mutu dan akses pendidikan dasar harus tetap mendapatkan prioritas paling tinggi," tandasnya.
(ors/gah)
Wapres Berbagi Kisah Masa Kecilnya Sekolah di SD Muhammadiyah
Oris Riswan Budiana - detikBandung
"Izinkan saya bercerita sedikit mengenai pengalaman saya sebagai murid SD Muhammadiyah di kota kecil, Kota Blitar, di awal tahun 1950-an," kata Boediono.
Saat itu, menurutnya jumlah SD negeri di kotanya sangat sedikit. Padahal jumlah anak yang ingin sekolah sangat banyak. "Oleh sebab itu, keberadaan SD Muhammadiyah sangat membantu anak-anak yang tidak bisa tertampung di SD-SD negeri. Saya termasuk anak-anak ini," ungkapnya.
Meski begitu, diakuinya fasilitas SD Muhammadiyah sangat minim. Para siswa juga tidak diwajibkan berseragam serta memakai sepatu. Namun uang sekolah pada saat itu terbilang murah dan terjangkau bagi para orangtua dengan kemampuan ekonomi seadanya.
"Dengan kondisi yang minim itu ada satu hal yang menonjol, yaitu guru-gurunya," kata Boediono. Ia mengatakan, kualitas para pendidik di SD Muhammadiyah sangat kompeten, termasuk jika dibandingkan dengan kondisi saat ini.
"Mereka mempunyai dedikasi sangat tinggi. Beliau-beliau itu, dengan segala keterbatasan yang ada berusaha keras untuk mengajar kami sebaik-baiknya. Saya bisa mengatakan bahwa mereka mengajar kami dengan hati," pujinya.
Sementara pada hari-hari tertentu, para siswa SD Muhamadiyah diwajibkan mengikuti kegiatan kepanduan. Di sana Boediono kecil belajar banyak hal mulai dari team work, keterampilan tali-temali hingga lagu perjuangan.
"Sampai sekarang pengalaman sekolah SD saya itu masih terus membekas di ingatan saya," tutur Boediono.
Berkaca dari pengalaman itu, ada banyak pelajaran yang bisa dipetik. Pelajaran itu di antaranya minimnya fasilitas bukan alasan untuk mendapatkan pembelajaran yang baik, dedikasi guru adalah segalanya, serta murahnya biaya pendidikan adalah sebuah keharusan.
"Pendidikan dasar yang baik adalah landasan bagi pendidikan selanjutnya dan kunci bagi upaya mencerdaskan bangsa. Perbaikan mutu dan akses pendidikan dasar harus tetap mendapatkan prioritas paling tinggi," tandasnya.
(ors/gah)



Sending your message