Detik.com News
Detik.com

Senin, 11/07/2011 14:20 WIB

Pungli dan Sekolah Tolak Siswa tak Mampu Warnai PPDB di Bandung

Tya Eka Yulianti - detikNews
Halaman 1 dari 2
Bandung - Selama proses pelaksanaan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2011, Koalisi Pendidikan Kota Bandung (KPKB) menerima puluhan laporan pelanggaran. Sedikitnya ada 8 indikasi pelanggaran yang ditemukan, mulai dari penolakan siswa tidak mampu hingga adanya pungutan sekolah.

"Laporan tentang PPDB yang masuk kebanyakan via SMS. Pada saya saja ada sampai 30 SMS. Pada Pak Wanto (Koordinator Fortusis) ada 21 SMS. Pada Iwan (FAGI) juga sekitar 30 SMS. Laporan yang masuk itu dari berbagai jenjang. Kalau telepon paling sehari 2 telepon masuk," ujar Koordinator KPKB Fridolin Berek pada wartawan di Gedung Indonesia Menggugat, Senin (11/7/2011).

Laporan yang masuk tersebut mulai diterima sejak awal PPDB, 13 Juni lalu. Indikasi pelanggaran penolakan siswa baru tidak mampu misalnya, terjadi di SMPN 2 dan SMK 3.

"Alasan penolakan di SMPN 2, siswa harus memiliki laptop. Kalau di SMK 3, ada orang tua siswa yang menyampaikan keberatan bahwa yang diterima dari jalur SKTM adalah mereka yang lokasinya jauh dari sekolah. Sementara yang lebih dekat tidak diterima. SMK 3 juga tidak melakukan survei lokasi," ujar Frido.

Indikasi pelanggaran lainnya yaitu tidak objektifnya seleksi pada jalur prestasi. "Hampir di semua sekolah yang membuka jalur prestasi tidak secara transparan dan objektif memberikan informasi. Contoh kasusnya di SMPN 7, SMPN 2, dan SMA 20," tuturnya.

Selain itu, ada juga pungutan yang dilakukan pihak sekolah pada saat PPDB. Besaran pungutan di setiap sekolah pun beragam, paling besar mencapai Rp 3 juta.

"Di MAN I Cijerah besarnya Rp 1,1 Juta, MAN I menyatakan lumrah bahwa saat daftar ulang, calon siswa harus membayar uang seragam. Penjualan seragam juga telah disepakati oleh komite sekolah," katanya.Next

Halaman 1 2

Ikuti berbagai berita menarik hari ini di program "Reportase Sore" TRANS TV Senin sampai Jumat pukul 16.45 WIB

(tya/ern)


Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Jumat, 22/05/2015 20:11 WIB
    Andrinof Chaniago: Reshuffle, Kami Tak Peduli
    Andrinof Chaniago: Reshuffle, Kami Tak Peduli Ada yang menilai kurang moncernya kinerja tim ekonomi saat ini tak lepas dari kurang optimalnya peran Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Andrinof Chaniago. Kepala Bappenas itu juga dituding banyak memangkas program-program unggulan Presiden Joko Widodo yang tertuang dalam Nawa Cita.
ProKontra Index »

Ayah Pemerkosa Putri Kandung dan Bunuh 4 Anaknya Layak Dihukum Mati!

Sadriansyah, warga Sungai Kunjang, Samarinda, Kaltim tega memperkosa putri kandungnya dan membunuh 4 anak-anak sendiri saat masih kecil. Anggota Komisi VIII DPR Maman Imanulhaq berpendapat, Sadriansyah pantas dihukum mati karena menjadi ayah yang biadab. Bila Anda setuju bahwa hukuman yang setimpal bagi Sadriansyah adalah hukuman mati, pilih Pro!
Pro
90%
Kontra
10%