detikcom
QuickCount Persentase Sampel
  • 6,90%
  • 9,20%
  • 6,90%
  • 18,90%
  • 14,30%
  • 11,80%
  • 9,70%
  • 7,50%
  • 6,70%
  • 5,40%
  • 1,60%
  • 1,10%
  • Last Updated : Kamis, 10 April 2014 18:39 , Sumber : Cyrus Network dan CSIS
  • 6.67%
  • 9.44%
  • 6.61%
  • 18.65%
  • 14.86%
  • 11.40%
  • 10.26%
  • 7.60%
  • 6.52%
  • 5.41%
  • 1.60%
  • 0.97%
  • Last Updated : Sabtu, 19/04/2014 04:48 , Sumber : Radio Republik Indonesia
Senin, 11/07/2011 14:20 WIB

Pungli dan Sekolah Tolak Siswa tak Mampu Warnai PPDB di Bandung

Tya Eka Yulianti - detikNews
Halaman 1 dari 2
Bandung - Selama proses pelaksanaan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2011, Koalisi Pendidikan Kota Bandung (KPKB) menerima puluhan laporan pelanggaran. Sedikitnya ada 8 indikasi pelanggaran yang ditemukan, mulai dari penolakan siswa tidak mampu hingga adanya pungutan sekolah.

"Laporan tentang PPDB yang masuk kebanyakan via SMS. Pada saya saja ada sampai 30 SMS. Pada Pak Wanto (Koordinator Fortusis) ada 21 SMS. Pada Iwan (FAGI) juga sekitar 30 SMS. Laporan yang masuk itu dari berbagai jenjang. Kalau telepon paling sehari 2 telepon masuk," ujar Koordinator KPKB Fridolin Berek pada wartawan di Gedung Indonesia Menggugat, Senin (11/7/2011).

Laporan yang masuk tersebut mulai diterima sejak awal PPDB, 13 Juni lalu. Indikasi pelanggaran penolakan siswa baru tidak mampu misalnya, terjadi di SMPN 2 dan SMK 3.

"Alasan penolakan di SMPN 2, siswa harus memiliki laptop. Kalau di SMK 3, ada orang tua siswa yang menyampaikan keberatan bahwa yang diterima dari jalur SKTM adalah mereka yang lokasinya jauh dari sekolah. Sementara yang lebih dekat tidak diterima. SMK 3 juga tidak melakukan survei lokasi," ujar Frido.

Indikasi pelanggaran lainnya yaitu tidak objektifnya seleksi pada jalur prestasi. "Hampir di semua sekolah yang membuka jalur prestasi tidak secara transparan dan objektif memberikan informasi. Contoh kasusnya di SMPN 7, SMPN 2, dan SMA 20," tuturnya.

Selain itu, ada juga pungutan yang dilakukan pihak sekolah pada saat PPDB. Besaran pungutan di setiap sekolah pun beragam, paling besar mencapai Rp 3 juta.

"Di MAN I Cijerah besarnya Rp 1,1 Juta, MAN I menyatakan lumrah bahwa saat daftar ulang, calon siswa harus membayar uang seragam. Penjualan seragam juga telah disepakati oleh komite sekolah," katanya.Next

Halaman 1 2

Seorang Balita Tercebur Ke Dalam Kuali Panas. Saksikan selengkapnya di "Reportase Pagi" pukul 04.30 - 05.30 WIB hanya di Trans TV

(tya/ern)


Punya info seputar #LaluLintas? Jangan lupa kirim ke pasangmata.com .

Sponsored Link

Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Kamis, 17/04/2014 12:31 WIB
    Dirut PT KCJ: Jangan Dulu Berharap Kereta Tepat Waktu
    Gb "PT KAI menggunakan track untuk kereta penumpang dan barang. Komuter di track yang sama. Dan jangan berharap ada ketepatan waktu jika rel digunakan bersama," kata Dirut PT KCJ Tri Handoyo.
ProKontra Index »

Bagi-bagi Kursi dan Menteri Itu Tidak Baik

Calon presiden PDIP Jokowi bertekad menguatkan sistem presidensial jika nanti terpilih. Jokowi menegaskan koalisi yang dibangunnya bukanlah koalisi bagi-bagi kursi dan jatah menteri. Dia mengatakan, yang akan diajak koalisi adalah partai-partai yang siap bekerja sama membangun bangsa dan negara tanpa meminta jatah kekuasaan. Bila Anda setuju dengan gagasan Jokowi, pilih Pro!
Pro
80%
Kontra
20%
MustRead close