Minggu, 18/04/2010 13:53 WIB

Peringatan KAA ke-55

PSB Bandung Bangga Arak 106 Bendera Peserta KAA foto

Baban Gandapurnama - detikNews
Bandung - Paguyuban Sapedah Baheula (PSB) Bandung mengaku bangga dilibatkan dalam peringatan Konferensi Asia Afrika (KAA) dengan mengarak 106 bendera peserta KAA. Semua bendera tersebut dipasang di sepeda onthel yang mereka bawa.

"Momen ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi PSB. Mengarak 106 bendera negara Asia Afrika dan satu bendera PBB adalah kali kedua yang dilakukkan PSB," jelas Ketua PSB Bandung Yahya Johari di Gedung Merdeka, Minggu (18/4/2010).

Aboy, begitu pria ini akrab disapa, mengatakan dilibatkanya komunitas sepeda onthel oleh panitia merupakan suatu kehormatan yang tak terlupakan. "Kami berharap, peringatan ini senantiasa menjadi penyemangat dalam mempererat tali silaturahmi antarbangsa," papar Aboy.

Ia menambahkan, selain menghadirkan sepeda onthel, para pengemudinya dilengkapi dandanan tempo dulu atau tahun 1950-an. "Tadi kami keliling Kota Bandung," jelasnya.

Selain PSB Bandung, kata Aboy, acara tersebut dimeriahkan pula dengan kehadiran komunitas sepeda tua dari Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat dan DKI Jakarta.

Dalam rangka memperingati Konferensi Asia Afrika (KAA) yang ke-55 tahun, sekitar 214 anggota pramuka dari Kwartir Cabang Kota Bandung menaikkan 106 bendera peserta KAA dan 1 bendera PBB di sekeliling Gedung Merdeka, Jalan Asia Afrika, Bandung, Minggu (18/4/2010).

Selain prosesi penaikkan 106 bendera peserta Konferensi Asia-Afrika (KAA), Peringatan KAA yang ke-55 juga dimeriahkan oleh Sepeda Ontel dari Paguyuban Sapedah Baheula Bandung dan Paguyuban Mobil Jeep Militer Bandung.

Ikuti berbagai peristiwa menarik yang terjadi sepanjang hari ini hanya di "Reportase" TRANS TV Senin - Jumat pukul 16.45 WIB

(bbn/avi)



Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
ProKontra Index »

Pemprov DKI Larang Aplikasi Taksi Uber

Baru diluncurkan sepekan, aplikasi penghubung taksi Uber langsung mendapat respons negatif dari Pemprov DKI. Alasan pelarangannya, mulai dari tak ada izin, tak ada kantor, tak mengikuti tarif resmi, berpelat hitam sehingga dikhawatirkan merugikan konsumen. Bila Anda setuju dengan Pemprov DKI yang melarang aplikasi taksi Uber, pilih Pro! Bila tidak setuju pelarangan taksi Uber, pilih Kontra!
Pro
86%
Kontra
14%