Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
-
Take the road less travelled on this trip through Guatemala, Honduras, Nicaragua and Costa Rica, Save 15%
Rp 118,799.000 -
Rp 2,833.000
Berita Lain
-
Minggu, 03/02/2013 11:16 WIB
Sepuluh Kampung Jadi Target Pertama Forum Beberes Bandung -
Minggu, 03/02/2013 09:43 WIB
Komunitas di Bandung Bentuk Beberes Bandung -
Jumat, 11/01/2013 10:31 WIB
Kenali Binatang Reptil Lebih Dekat, Yuk! -
Jumat, 11/01/2013 07:31 WIB
Mengenal Lebih Dekat Reptil di KRB -
Sabtu, 03/11/2012 09:11 WIB
Bermain Lightsaber Bersama Komunitas Urban Jedi -
Jumat, 02/11/2012 11:23 WIB
Order 66 Bandung, Tempat Berkumpulnya Pecinta Film Star Wars
Indeks Berita
Forum Bandung
Thread Pilihan

Senin, 06/05/2013 13:32 WIB
Ini Cara Asyik Belajar Sejarah Kota Bandung
Posted : aidiralazuardi
Kamis, 28/01/2010 09:47 WIB
Topi Demang Antik Buatan Masa Kini
Ema Nur Arifah - detikBandung
Bandung -
Disebut topi demang atau topi kompeni. Termasuk topi antik yang konon digunakan oleh demang atau pejabat pada zaman pendudukan kolonial Belanda. Meski bukan lagi di zamannya, bukan berarti kehilangan penggemar.
Seperti R Dedi S Iskandar (59). Berawal dari menyukai topi demang, Dedi kemudian terjun langsung sebagai perajin topi demang yang dilakoninya tujuh bulan terakhir ini.
Padahal Dedi sendiri secara kasat mata tidak pernah melihat, menyentuh bahkan memiliki topi jenis ini. Namun sebuah potret dari kakeknya yang sedang memakai sepeda onthel dan topi demang membangkitkan kekaguman Dedi akan keantikan topi demang.
"Saya lihat sepeda onthel, lalu topi demang, indah kelihatannya," ujar Dedi saat ditemui di rumahnya sekaligus tempat workshop di Jalan Turangga Timur I No 18.
Tanpa bekal ilmu dan gambar untuk membuat topi demang. Ayah tiga anak ini bereksperimen dengan imajinasi. Kesulitannya terletak saat Dedi membuat cetakan batok topi berbahan tanah liat dan berkali-kali mengalami kegagalan. Di eksperimen ketiga diakui Dedi barulah dia menghasilkan cetakan yang diinginkan.
Berbahan dasar resin agar topi menjadi kokoh dan tidak menyerap air. Untuk bagian luar bahan imitasi, kancing untuk pemanis, busa dan kain untuk lapisan bagian dalam dan lem.
Topi demang ini diberi label Old Bike karena identik digunakan oleh pengguna sepeda tua. Kebanyakan Dedi membuat topi demang berwarna putih dan krem. Seharusnya, ujar Dedi, untuk bagian luar menggunakan bahan kain bukan kulit imitasi. Namun bahan ini sengaja dipilih agar tidak menyerap air kalau hujan turun.
Dalam tempo satu hari, bersama tiga pegawainya, Dedi bisa membuat 5 buah topi. Topi yang dibuat ada yang khusus untuk laki-laki dengan caping lebar dan ada di sekeliling topi.
Sedangkan untuk wanita bentuknya mirip dengan topi untuk berkuda. Harganya memang cukup tinggi. Untuk topi demang laki-laki Rp 200 ribu dan topi demang kecil Rp 100 ribu. Saat ini Dedi menjualnya di toko barang bekas seperti Babe dan Old and New. Di samping itu, dia juga menjajal dari pameran ke pameran.
(ema/tya)
Topi Demang Antik Buatan Masa Kini
Ema Nur Arifah - detikBandung
Foto Terkait
Seperti R Dedi S Iskandar (59). Berawal dari menyukai topi demang, Dedi kemudian terjun langsung sebagai perajin topi demang yang dilakoninya tujuh bulan terakhir ini.
Padahal Dedi sendiri secara kasat mata tidak pernah melihat, menyentuh bahkan memiliki topi jenis ini. Namun sebuah potret dari kakeknya yang sedang memakai sepeda onthel dan topi demang membangkitkan kekaguman Dedi akan keantikan topi demang.
"Saya lihat sepeda onthel, lalu topi demang, indah kelihatannya," ujar Dedi saat ditemui di rumahnya sekaligus tempat workshop di Jalan Turangga Timur I No 18.
Tanpa bekal ilmu dan gambar untuk membuat topi demang. Ayah tiga anak ini bereksperimen dengan imajinasi. Kesulitannya terletak saat Dedi membuat cetakan batok topi berbahan tanah liat dan berkali-kali mengalami kegagalan. Di eksperimen ketiga diakui Dedi barulah dia menghasilkan cetakan yang diinginkan.
Berbahan dasar resin agar topi menjadi kokoh dan tidak menyerap air. Untuk bagian luar bahan imitasi, kancing untuk pemanis, busa dan kain untuk lapisan bagian dalam dan lem.
Topi demang ini diberi label Old Bike karena identik digunakan oleh pengguna sepeda tua. Kebanyakan Dedi membuat topi demang berwarna putih dan krem. Seharusnya, ujar Dedi, untuk bagian luar menggunakan bahan kain bukan kulit imitasi. Namun bahan ini sengaja dipilih agar tidak menyerap air kalau hujan turun.
Dalam tempo satu hari, bersama tiga pegawainya, Dedi bisa membuat 5 buah topi. Topi yang dibuat ada yang khusus untuk laki-laki dengan caping lebar dan ada di sekeliling topi.
Sedangkan untuk wanita bentuknya mirip dengan topi untuk berkuda. Harganya memang cukup tinggi. Untuk topi demang laki-laki Rp 200 ribu dan topi demang kecil Rp 100 ribu. Saat ini Dedi menjualnya di toko barang bekas seperti Babe dan Old and New. Di samping itu, dia juga menjajal dari pameran ke pameran.
(ema/tya)

Sending your message