Cari Penawaran Terbaik di Sini



Berita Lain

Indeks Berita

Selasa, 01/12/2009 08:51 WIB
Mengintai Segarnya Rujak Malaysia
Ema Nur Arifah - detikBandung


Bandung - Isu sensitif soal konflik Indonesia dan Malaysia, mungkin saja membuat siapapun menolehkan wajah ketika terpampang dalam sebuah spanduk tertulis 'RujakMalaysia'. Bisa jadi membuat enggan untuk mampir atau sebaliknya malah penasaran.

Bagi Aulia Sundari (26) dan Indra Nurcholis (33), isu tersebut tidak ada hubungannya dengan keinginan mereka membuka usaha kuliner dengan andalan menu rujak Malaysia.

Meski sadar isu itu sedang cukup ramai ketika mereka membuka usaha tersebut 7 bulan lalu, Aulia dan Indra tak gentar untuk memperkenalkan rujak khas Malaysia tersebut.

"Memang beberapa yang datang banyak yang bertanya kenapa namanya rujak Malaysia, bahkan ada yang minta ganti saja namanya," tutur Aulia saat ditemui di kios rujaknya Jalan Buah Batu No 26. Bahkan, menurut Aulia, saat awal mereka buka, sempat ada pengintaian dari beberapa petugas kepolisian.

Barangkali bisa jadi nama itu menjadi hoki karena banyak orang yang penasaran seperti apa sih rujak Malaysia itu. Menurut Aulia, rujak Malaysia ini sebenarnya sudah ada sejak lama di Indonesia, hanya saja, baru kali ini secara langsung dijual ke konsumen.

"Biasanya suka ada di katering-katering pernikahan," ujar perempuan berjilbab ini.

Aulia tahu rujak Malaysia setelah dikenalkan oleh kerabatnya yang pernah pergi ke Malaysia. Bahan-bahan rujak Malaysia adalah ubi, kedondong, bengkoang yang diserut dan buah kaweni dan nanas yang dipotong kotak-kotak. Uniknya, rujak ini ditambahkan dengan buah delima. Namun karena buah delima terbilang langka, Aulia memodifikasinya dengan jagung.

"Kita modifikasi dengan jagung karena buah delima langka sementara kita harus produksi setiap hari," tuturnya. Bedanya lagi, tambah Aulia, rujak ini berkuahkan air jerus peres.

"Jadi mengandung vitamin C juga," ujar Aulia berpromosi.

Kalau di Indonesia, rujak Malaysia bisa disamakan dengan rujak kanestren. Namun bedanya, rujak kanestren kuahnya dibuat dari air asam.

Selain rujak Malaysia, di kiosnya Aulia juga menjual rujak kedondong, rujak cuka, dan rujak coel. Rujak kedondong kuahnya terbuat dari air gula aren, sedangkan rujak coel bumbunya dibuat dari comrang, tumbuhan yang digunakan untuk memberikan sensasi masam.

Kalau bumbu rujak coel rasa comrang, menurut Aulia sudah lebih dulu dilempar ke pasaran. Dibuat oleh ibu mertuanya dengan nama label Rujak Fiesta.

Sampai saat ini di kiosnya, permintaan rujak Malaysia masih mendominasi. "Permintaan paling banyak masih rujak Malaysia," tutur Aulia.

Rujak-rujak tersebut dikemas dalam cup plastik dan khusus untuk rujak kedondong dibungkus dengan plastik. Satu cup atau porsinya dijual dengan harga Rp 5 ribu.

Dalam satu hari diakui Aulia, dia bisa menjual 30-an rujak. Tapi kalau kondisi hujan atau sedang sepi, bisa saja di bawah 10 pembeli.

Jika ingin mencoba rujak ini, lokasinya cukup strategis antara Jalan Buahbatu dan Jalan Kliningan. Di Jalan Kliningan bisa ditemukan juga area kuliner Gokil alias Goyobod Kliningan yang tak hanya menjual goyobod tapi jajanan lainnya seprti Nakso Jablay, Tahu Brintik dan lain-lain.

Biar musim hujan, makan rujak akan tetap menyegarkan.(ema/ern)


Share

Foto Lain

Fotolain

Baca juga :