Jumat, 13/02/2009 07:44 WIB

Berburu Burung di Pasar Sukahaji video foto

Ema Nur Arifah - detikNews
Halaman 1 dari 2
Bandung - Pasar Burung Sukahaji disebut-sebut sebagai pasar burung terbesar kelima di Indonesia. Tidak salah jika pasar ini sering dikunjungi pejabat-pejabat yang memiliki hobi memelihara burung.

Pasar Sukahaji didirikan pada tahun 1994 di atas lahan seluas 5.800 meter persegi. Berdiri di atas tanah pemerintah daerah tapi dikelola oleh swasta. Para pedagang merupakan pindahan dari Pasar Andir. Sebanyak 152 pedagang setiap harinya beraktivitas di pasar ini. Sebagian besar pedagang berasal dari Jawa Tengah.

Jangan protes ketika memasuki area pasar akan tercium bau kotoran burung. Berikut kicau burung yang bersahut-sahutan memenuhi hampir seluruh area pasar. Sejauh mata memandang hanyalah penjual burung, gantungan sangkar-sangkar burung terselip juga penjual pakan burung juga produk-produk pelengkap hobi burung lainnya.

Menurut Dedi Apandi (45) salah seorang pedagang burung, ada dua kelompok burung yang dijual di pasar ini yaitu burung ocehan dan burung hiasan. Kalau burung ocehan tentu saja dikejar oleh orang-orang yang sering ikut kontes burung. Kalaui burung hiasan hanya untuk jadi pajangan saja. "Kebanyakan pejabat membeli burung hiasan," ujar Dedi.

Dedi sendiri menjual burung jenis jalak, jalak Bali, cucakrowo, gelatik, murray dan lain-lain. Sedangkan untuk burung yang paling mahal adalah anis merah yang biasa dijadikan burung ocehan dalam kontes burung. Selain burung-burung lokal, Dedi juga menjual burung impor, seperti gold amadin dan lovebird dari Belanda juga gelatik Silver dari Cina. Walaupun diakui Dedi saat ini dirinya tidak mengimpor lagi dari luar karena besarnya biaya pengiriman. Dedi sendiri mendapatkan burung-burung ini dari Bandung, Jakarta atau ke luar kota.

"Termasuk dari orang-orang yang ingin menjual burungnya," tutur Dedi.

Harga burung-burung tersebut bervariasi. Dari yang termurah Rp 50 ribu sampai harga puluhan juta. Misalnya untuk jalak Bali Rp 15 juta atau burung ocehan yang memenang kontes. "Kalau burung ocehan yang menang kontes harganya bisa lebih mahal," tutur Dedi.Next

Halaman 1 2

Mulai hari anda dengan informasi aneka peristiwa penting dan menarik di "Reportase Pagi" pukul 04.00 - 05.30 WIB hanya di Trans TV

(ema/ahy)



Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
ProKontra Index »

Pemprov DKI Larang Aplikasi Taksi Uber

Baru diluncurkan sepekan, aplikasi penghubung taksi Uber langsung mendapat respons negatif dari Pemprov DKI. Alasan pelarangannya, mulai dari tak ada izin, tak ada kantor, tak mengikuti tarif resmi, berpelat hitam sehingga dikhawatirkan merugikan konsumen. Bila Anda setuju dengan Pemprov DKI yang melarang aplikasi taksi Uber, pilih Pro! Bila tidak setuju pelarangan taksi Uber, pilih Kontra!
Pro
75%
Kontra
25%
MustRead close