Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
-
Take the road less travelled on this trip through Guatemala, Honduras, Nicaragua and Costa Rica, Save 15%
Rp 11,808.000 -
Rp 5,192.000
Berita Lain
-
Minggu, 03/02/2013 11:16 WIB
Sepuluh Kampung Jadi Target Pertama Forum Beberes Bandung -
Minggu, 03/02/2013 09:43 WIB
Komunitas di Bandung Bentuk Beberes Bandung -
Jumat, 11/01/2013 10:31 WIB
Kenali Binatang Reptil Lebih Dekat, Yuk! -
Jumat, 11/01/2013 07:31 WIB
Mengenal Lebih Dekat Reptil di KRB -
Sabtu, 03/11/2012 09:11 WIB
Bermain Lightsaber Bersama Komunitas Urban Jedi -
Jumat, 02/11/2012 11:23 WIB
Order 66 Bandung, Tempat Berkumpulnya Pecinta Film Star Wars
Indeks Berita
Forum Bandung
Jumat, 13/02/2009 07:44 WIB
Berburu Burung di Pasar Sukahaji
Ema Nur Arifah - detikBandung
Bandung -
Pasar Burung Sukahaji disebut-sebut sebagai pasar burung terbesar kelima di Indonesia. Tidak salah jika pasar ini sering dikunjungi pejabat-pejabat yang memiliki hobi memelihara burung.
Pasar Sukahaji didirikan pada tahun 1994 di atas lahan seluas 5.800 meter persegi. Berdiri di atas tanah pemerintah daerah tapi dikelola oleh swasta. Para pedagang merupakan pindahan dari Pasar Andir. Sebanyak 152 pedagang setiap harinya beraktivitas di pasar ini. Sebagian besar pedagang berasal dari Jawa Tengah.
Jangan protes ketika memasuki area pasar akan tercium bau kotoran burung. Berikut kicau burung yang bersahut-sahutan memenuhi hampir seluruh area pasar. Sejauh mata memandang hanyalah penjual burung, gantungan sangkar-sangkar burung terselip juga penjual pakan burung juga produk-produk pelengkap hobi burung lainnya.
Menurut Dedi Apandi (45) salah seorang pedagang burung, ada dua kelompok burung yang dijual di pasar ini yaitu burung ocehan dan burung hiasan. Kalau burung ocehan tentu saja dikejar oleh orang-orang yang sering ikut kontes burung. Kalaui burung hiasan hanya untuk jadi pajangan saja. "Kebanyakan pejabat membeli burung hiasan," ujar Dedi.
Dedi sendiri menjual burung jenis jalak, jalak Bali, cucakrowo, gelatik, murray dan lain-lain. Sedangkan untuk burung yang paling mahal adalah anis merah yang biasa dijadikan burung ocehan dalam kontes burung. Selain burung-burung lokal, Dedi juga menjual burung impor, seperti gold amadin dan lovebird dari Belanda juga gelatik Silver dari Cina. Walaupun diakui Dedi saat ini dirinya tidak mengimpor lagi dari luar karena besarnya biaya pengiriman. Dedi sendiri mendapatkan burung-burung ini dari Bandung, Jakarta atau ke luar kota.
"Termasuk dari orang-orang yang ingin menjual burungnya," tutur Dedi.
Harga burung-burung tersebut bervariasi. Dari yang termurah Rp 50 ribu sampai harga puluhan juta. Misalnya untuk jalak Bali Rp 15 juta atau burung ocehan yang memenang kontes. "Kalau burung ocehan yang menang kontes harganya bisa lebih mahal," tutur Dedi.
Selain burung ada beberapa pedagang yang menjual jenis unggas lainnya seperti ayam, ayam jenis kalkun dan bebek. Bahkan ada juga yang menjual kucing, tikus putih, tupai dan kelelawar.
Selain burung tentulah dijual pula sangkar burung. Di tempat ini pula ada proses pemolesan sangkar burung sehingga menjadi lebih cantik. Sangkar-sangkar tersebut dijual sesuai dengan tingkat kesulitan ukiran. Dari harga ratusan ribu sampai tidak lebih dari lima juta.
Kabar-kabar komunitas di Bandung ada di Forumbandung.(ema/ahy)
Berburu Burung di Pasar Sukahaji
Ema Nur Arifah - detikBandung
Pasar Sukahaji didirikan pada tahun 1994 di atas lahan seluas 5.800 meter persegi. Berdiri di atas tanah pemerintah daerah tapi dikelola oleh swasta. Para pedagang merupakan pindahan dari Pasar Andir. Sebanyak 152 pedagang setiap harinya beraktivitas di pasar ini. Sebagian besar pedagang berasal dari Jawa Tengah.
Jangan protes ketika memasuki area pasar akan tercium bau kotoran burung. Berikut kicau burung yang bersahut-sahutan memenuhi hampir seluruh area pasar. Sejauh mata memandang hanyalah penjual burung, gantungan sangkar-sangkar burung terselip juga penjual pakan burung juga produk-produk pelengkap hobi burung lainnya.
Menurut Dedi Apandi (45) salah seorang pedagang burung, ada dua kelompok burung yang dijual di pasar ini yaitu burung ocehan dan burung hiasan. Kalau burung ocehan tentu saja dikejar oleh orang-orang yang sering ikut kontes burung. Kalaui burung hiasan hanya untuk jadi pajangan saja. "Kebanyakan pejabat membeli burung hiasan," ujar Dedi.
Dedi sendiri menjual burung jenis jalak, jalak Bali, cucakrowo, gelatik, murray dan lain-lain. Sedangkan untuk burung yang paling mahal adalah anis merah yang biasa dijadikan burung ocehan dalam kontes burung. Selain burung-burung lokal, Dedi juga menjual burung impor, seperti gold amadin dan lovebird dari Belanda juga gelatik Silver dari Cina. Walaupun diakui Dedi saat ini dirinya tidak mengimpor lagi dari luar karena besarnya biaya pengiriman. Dedi sendiri mendapatkan burung-burung ini dari Bandung, Jakarta atau ke luar kota.
"Termasuk dari orang-orang yang ingin menjual burungnya," tutur Dedi.
Harga burung-burung tersebut bervariasi. Dari yang termurah Rp 50 ribu sampai harga puluhan juta. Misalnya untuk jalak Bali Rp 15 juta atau burung ocehan yang memenang kontes. "Kalau burung ocehan yang menang kontes harganya bisa lebih mahal," tutur Dedi.
Selain burung ada beberapa pedagang yang menjual jenis unggas lainnya seperti ayam, ayam jenis kalkun dan bebek. Bahkan ada juga yang menjual kucing, tikus putih, tupai dan kelelawar.
Selain burung tentulah dijual pula sangkar burung. Di tempat ini pula ada proses pemolesan sangkar burung sehingga menjadi lebih cantik. Sangkar-sangkar tersebut dijual sesuai dengan tingkat kesulitan ukiran. Dari harga ratusan ribu sampai tidak lebih dari lima juta.
Kabar-kabar komunitas di Bandung ada di Forumbandung.(ema/ahy)



Sending your message