Detik.com News
Detik.com
Rabu, 19/11/2008 08:33 WIB

Bernostalgia dengan Kaset Lawas

Ema Nur Arifah - detikNews
Halaman 1 dari 2
Bernostalgia dengan Kaset Lawas
Bandung - Seperti tersedot ke masa lalu ketika pertama kali masuk ke Toko Kaset Antik yang terletak di Jalan Cipaganti. Aura masa lalu akan langsung terdengar dalam alunan musik yang mengiringi para pembeli.

Deretan kaset-kaset era 60-an sampai 90-an berderet dengan rapih dalam rak dan etalase. Setiap kaset diklasifikasikan berdasarkan tahun dan jenis musik. Rock, pop, jazz, kompilasi, dan lain-lain. Jika melihat setiap album dan tahun rilisnya pasti akan sedikit membuka memori tentang musik pada masa itu.

Henri Yanto (46) yang pemilik toko Kaset Antik mengatakan, di tempatnya terdapat ribuan kaset lawas. Kaset-kaset tersebut didapatnya dari hasil berburu dan jual beli kaset.

Setiap kaset-kaset yang masuk tentunya masuk seleksi terlebih dahulu. Misalnya apakah suaranya masih layak dengar atau tidak. Dari proses seleksi itu Henri bisa menentukan akan ditentukan apakah kaset-kaset tersebut termasuk kategori khusus atau umum.

Kategori umum yaitu kaset-kaset lama yang bisa dibilang belum begitu langka. Sedangkan yang khusus adalah kaset yang terbilang sudah sangat langka sehingga dari segi harga kaset khusus sedikit lebih tinggi dari kaset umum.

Untuk kaset-kaset umum misalnya dijual di kisaran Rp 12.500 untuk lagu Indonesia dan Rp 15 ribu untuk musik barat. Sedangkan untuk yang khusus harganya bisa lebih berada di angka puluhan ribu. Tak hanya itu, di sini juga tersedia piringan hitam yang dijual sekitar Rp 25 ribu. Sangat klasik bukan?

Namun menurut Henri, penghargaan terhadap kaset antik tidak dihargai layaknya benda-benda antik lainnya yang mungkin dihargai berkali-kali lipat. Sebab saat ini masih saja ada orang yang terheran-heran jika ada kaset langka yang harganya mahal.Next

Halaman 1 2

Mulai hari anda dengan informasi aneka peristiwa penting dan menarik di "Reportase Pagi" pukul 04.00 - 05.30 WIB hanya di Trans TV

(ema/ern)


Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Kamis, 26/03/2015 12:35 WIB
    Dirut Fahmi Idris: BPJS Tak Mungkin Bangkrut
    Dirut Fahmi Idris: BPJS Tak Mungkin Bangkrut Jumlah pengguna jaminan kesehatan nasional melonjak tajam pada tahun pertama penyelenggaraannya. Akibatnya, kondisi keuangan BPJS Kesehatan defisit. Klaim membengkak, lebih besar daripada premi yang diterima.
ProKontra Index »

Tolak APBD DKI 2015, Parpol Lembek dan Mengecewakan

DPRD DKI menolak penggunaan APBD DKI 2015 setelah tak mau membahasnya lewat rapat Badan Anggaran. Tokoh antikorupsi Buya Syafii Maarif mengatakan sikap partai lembek dan mengecewakan. "Mereka menolak isu anggaran siluman tetapi mendukung atau tidak menarik diri dari Hak Angket. Padahal, Ahok diangket karena jelas menolak anggaran siluman itu," kata Buya Syafii. Bila Anda setuju pendapat Buya Syafii, pilih Pro!
Pro
100%
Kontra
0%