DetikNews
Jumat 15 April 2016, 19:16 WIB

Jurus Kuliah ke Luar Negeri Berkat Jaringan Pertemanan

Australia Plus ABC - detikNews
Jurus Kuliah ke Luar Negeri Berkat Jaringan Pertemanan Foto: Australia Plus ABC
Jakarta -

ABC Australia Plus Indonesia secara berkala menurunkan informasi mengenai cara mendapatkan beasiswa ke luar negeri untuk mahasiswa S2 dan S3. Dalam tulisan ini Heru Handika, mahasiswa S2 Universitas Melbourne, membagi pengalaman bagaimana membangun jaringan pertemanan yang bisa membantu kuliah.

Berawal dari kesulitan mendapatkan jurnal ilmiah, enam tahun lalu ketika masih di tahun dua kuliah S1, saya memberanikan diri mengirim e-mail secara random ke peneliti-peneliti yang sesuai bidang saya. Hanya bermodalkan Google Translate awalnya.

Keberanian itu ternyata membuka pintu untuk melihat dunia yang lebih luas. Puncaknya saya bisa berkuliah di Australia. Berikut beberapa manfaat yang saya dapatkan:

Mulai dari jurnal sampai buku, dari PDF sampai hardcopy

Ketika anda mampu membangun koneksi dengan para ahli di bidang anda, mendapatkan jurnal yang sulit diakses kini bisa menjadi mudah. Itulah yang saya alami sendiri. Bahkan bukan hanya softcopy, tapi saya pernah dikirimi buku satu kardus dari ahli mamalia di National Museum and Natural History dari Amerika Serikat. Nilai totalnya ratusan dollar. Semua hanya tergantung bagaimana kita berkomunikasi dengan baik dan menunjukkan keinginan yang kuat untuk mendalami bidang kita.

Tugas akhir anti galau

Dengan jaringan yang kita punya hingga ke mancanegara, kita bisa memanfaatkan untuk berdiskusi masalah penelitian, mulai dari judul sampai metoda yang akan digunakan. Skripsi saya banyak terbantu karena ini.

Tak bisa dipungkiri, pembimbing kita terkadang memiliki keterbatasan. Pembimbing juga manusia yang tidak tahu segalanya.

Terkadang topik penelitian kita bukanlah topik yang dikuasai pembimbing. Untuk hal-hal umum, mungkin mereka tahu. Tapi untuk hal-hal spesifik, terkadang tidak benar-benar tahu.

Bahayanya, terkadang pembimbing meminta kita mahasiswa mengarahkan kita metoda yang sebenarnya tidak sesuai untuk topik penelitian kita tersebut. Tapi tak ada yang menyadari ini salah, karena tak ada yang benar-benar tahu. Dengan berdisikusi dengan ahli di topik penelitian kita, wawasan menjadi bertambah, dan hasilnya pun lebih memuaskan.

Ini juga dapat mengurangi kemungkinan kita didikte oleh pembimbing. Komunikasi dengan pembimbing pun kemungkinan akan dua arah. Jadi bukan hanya mahasiswa yang belajar kepada pembimbingnya. Tapi, pembimbing pun mungkin akan mendapat ilmu baru dari si mahasiswa. Begitu lah pendidikan seharusnya.

Heru Handika (tiga dari kanan) bersama peneliti Indonesia dan asing ketika melakukan penelitian di Sulawesi.   Foto: Heru Handika
Heru Handika (tiga dari kanan) bersama peneliti Indonesia dan asing ketika melakukan penelitian di Sulawesi. Foto: Heru Handika

Mendapatkan bantuan biaya penelitian bukan hal yang mustahil

Anda mungkin tak percaya ini. Tapi, ini terjadi dengan saya. Seorang teman asal Denmark mengirimkan saya uang cuma-cuma untuk membantu dana penelitian S1 saya. Saya mendapatkannya tanpa proposal. Riset saya ke Pulau Bangka juga mendapat bantuan dari teman luar negeri saya. Tanpa proposal.

Artinya, dengan membangun jaringan dan berkomunikasi secara baik, banyak hal yang tidak mungkin menjadi mungkin. Jaringan pertemanan ini juga akan sangat membantu dalam pembuatan proposal bantuan dana penelitian.

Mulai dari memberikan sumbangan ide, membantu memperbaiki Bahasa Inggrisnya (jika proposal berbahasa inggris), hingga menjadi Referee bagi proposal anda.

Riset hingga menyambung kuliah ke luar negeri

Mimpi untuk bisa ke luar negeri, bukanlah hal mustahil jika kita bisa membangun jaringan pertemanan dengan baik. Banyak tawaran riset bertebaran di luar sana, menunggu tangan-tangan yang akan meraihnya. Professor dari universitas-universitas di negara maju juga pada dasarnya menginginkan mahasiswa asing. Ini merupakan poin tersendiri bagi mereka. Bukan hal yang tidak mungkin, anda menjadi salah satu yang mendapat kesempatan tersebut.

Dengan jaringan pertemanan, terkadang skor tes Bahasa Inggris pun menjadi tidak penting. Intinya, kuliah ke luar negeri bukan hanya milik mereka yang mahir Bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya.

Jangan sampai kehilangan hak kita untuk mendapatkan pendidikan yang lebih berkulitas hanya karena kita tidak mahir berbahasa asing. Namun, bukan berarti ini menjadi alasan untuk tidak mendalami Bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya.

Ketika kita sudah melakukan pergaulan Internasional, kemampuan bahasa asing mutlak diperlukan. Tapi, ini bisa dipelajari sairing berjalannya waktu, terkadang ketika sudah berada di negara tujuan studi.

Bukan hanya empat peluang di atas yang bisa didapatkan dengan membangun jaringan ilmiah. Bisa jadi anda memiliki cerita lain dan mendapatkan kesempatan-kesempatan lain yang tidak diduga. Selagi kita berusaha, akan selalu ada jalan untuk mewujudkan impian.

* Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan sebelumnya pernah dimuat di blog pribadi Tikus.net. Heru Handika adalah penerima beasiswa LPDP tahun 2014. Saat ini aktif sebagai mahasiswa Master of Science (Zoology) di University of Melbourne, juga aktif melakukan penelitian di Museum Victoria, Australia.




(nwk/nwk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed